Laporan: Shodiq
SEMARANG,HARIAN7.COM – Lonjakan harga solar industri yang nyaris menyentuh angka Rp30.000 per liter mengancam melumpuhkan sektor perikanan di Jawa Tengah.
Menanggapi jeritan para nelayan, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan komitmennya untuk mengawal langsung aspirasi tersebut ke pemerintah pusat guna meminta skema harga khusus bagi kapal di atas 30 Gross Ton (GT).
“Kami sudah menerima aspirasi nelayan yang mewakili kapal di atas 30 GT. Saat ini operasional mereka sangat berat karena harus menggunakan BBM nonsubsidi yang harganya melonjak tajam,” ujar Ahmad Luthfi usai menerima audiensi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jateng di Kantor Gubernur, Jumat (8/5/2026).
Beban Operasional Tak Masuk Akal
Kenaikan harga solar dari kisaran Rp13.000-Rp15.000 menjadi Rp25.000-Rp30.000 per liter dinilai sudah di luar kemampuan nelayan.
Kondisi ini memicu efek domino; mulai dari kapal yang berhenti melaut hingga potensi lonjakan inflasi akibat naiknya harga ikan di pasar.Luthfi menegaskan akan segera menyurati dan berkoordinasi dengan lintas kementerian, mulai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ESDM, hingga Kementerian Keuangan.
“Semua aspirasi kita tampung dan akan kita kawal ke pusat agar ada relaksasi harga. Jika nelayan berhenti melaut, implikasinya luas: produksi ikan terganggu dan ekosistem ekonomi pelabuhan bisa mati,” tegasnya.
Ribuan Kapal Terancam “Parkir”
Ketua HNSI Jawa Tengah, Riswanto, membeberkan fakta pahit di lapangan. Di wilayah Juwana saja, terdapat sekitar 1.600 kapal ukuran di atas 30 GT yang kini mayoritas hanya bisa bersandar di pelabuhan.
“Banyak kapal sudah diikat (tidak melaut) karena biaya operasional membengkak drastis. Kami berharap ada harga khusus agar aktivitas melaut bisa normal kembali,” ungkap Riswanto.
Berdasarkan data audiensi, penurunan keuntungan nelayan sangat drastis akibat konflik geopolitik global yang memicu kenaikan BBM. Kapal purse seine dengan durasi trip delapan bulan, misalnya, mengalami merosotnya keuntungan bersih hingga 94 persen, dari Rp1,27 miliar menjadi hanya Rp66 juta.
Fokus pada Kesejahteraan Nelayan
Gubernur Ahmad Luthfi berencana turun langsung ke Juwana untuk berdialog dengan pedagang dan asosiasi guna mencari solusi jangka pendek.
“Apa gunanya infrastruktur maju kalau nelayan kita masih kesulitan? Saya bertanggung jawab mengusahakan agar suara panjenengan didengar pusat. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” pungkas Luthfi.(*)









Tinggalkan Balasan