Laporan: Muhamad Nuraeni
SALATIGA | HARIAN7.COM – Di sebuah panggung kecil, keresahan sosial tidak dibawa dengan nada marah. Ia justru dikemas menjadi cerita, jeda, lalu pecah menjadi tawa. Di Salatiga, humor menemukan peran yang lebih jauh dari sekadar hiburan: menjadi cara untuk membicarakan perbedaan.
Melalui Festival Humor Salatiga, Komunitas StandupIndo Salatiga mencoba menguji satu gagasan sederhana: bahwa keberagaman tidak selalu harus dirawat melalui forum resmi dan pidato panjang. Kadang, sebuah lelucon yang tepat dapat membuka ruang perjumpaan yang lebih cair.
Festival yang didukung Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) itu menjadikan seni komedi, khususnya stand-up comedy, sebagai medium untuk mempertemukan pelajar, masyarakat, akademisi, dan komunitas dalam satu panggung yang sama.
Salatiga dipilih bukan tanpa alasan. Kota yang dikenal dengan kehidupan masyarakatnya yang beragam itu selama ini menjadi ruang bertemunya berbagai identitas. Festival Humor Salatiga kemudian mencoba menghadirkan pendekatan berbeda: menjadikan humor sebagai bahasa bersama.
Bukan sekadar membuat orang tertawa, tetapi mengajak masyarakat memahami bahwa perbedaan dapat dibicarakan tanpa harus menciptakan jarak.
Dari Keresahan Menjadi Materi Komedi
Perjalanan festival dimulai dari ruang-ruang sekolah. Program “Komika Goes to School” menjadi pintu masuk untuk mengenalkan stand-up comedy kepada siswa SMA dan SMK di Salatiga.
Kegiatan diawali dengan kick off pada 10 Agustus 2026 di Pansi Coffee & Community Hub. Para siswa mendapatkan pelatihan dari komika asal Salatiga, Ondy Setya.
Mereka tidak hanya diajarkan bagaimana berdiri di atas panggung dan membuat penonton tertawa. Lebih dari itu, mereka belajar mengolah pengalaman pribadi, keresahan sosial, hingga persoalan di sekitar mereka menjadi materi yang memiliki pesan.
“Kita semua sebenarnya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi yang menjadi dasar menyampaikan keresahan. Stand-up comedy berkaitan dengan itu, tinggal dipoles dengan humor untuk mendapat tawa,” ujar Ondy.
Pelatihan kemudian berlanjut di sejumlah sekolah, yakni SMK PGRI 2 Salatiga bersama Toat Abdaul, SMA Sainstek Ahmad Dahlan Salatiga bersama Thesar Yanuar, serta SMA Negeri 2 Salatiga bersama Alan Tamalagi.
Para peserta diperkenalkan bahwa humor bukan sekadar permainan kata. Ada proses membaca situasi, memahami audiens, sekaligus mempertimbangkan batas etika.
Seorang komika tidak hanya dituntut lucu, tetapi juga memahami mengapa sebuah materi bisa diterima dan mengapa sebuah candaan bisa menimbulkan persoalan.
Ketika Isu Sensitif Dibawa ke Atas Panggung
Setelah melewati pelatihan, para peserta memasuki arena kompetisi “Clash of Comedy (COC)” pada 28 Agustus 2026 di Pansi Coffee & Community Hub.
Kompetisi itu mempertemukan dua kategori, yakni pelajar dan umum. Namun yang menarik, panggung tersebut tidak hanya mencari siapa yang paling mengundang tawa.
Materi yang muncul justru banyak berbicara tentang kehidupan sosial, keberagaman, toleransi, budaya lokal, hingga identitas masyarakat.
Di tangan para peserta, isu yang sering dianggap serius coba disampaikan melalui sudut pandang yang lebih ringan. Humor menjadi alat untuk membuka percakapan, bukan memperbesar jarak.
Dari kompetisi tersebut, lima finalis dari masing-masing kategori kemudian melaju ke babak grand final. Mereka dinilai oleh tiga juri, yakni Bob Sadoni, komika Salatiga, Widi Arie selaku Founder Komunitas StandupIndo Salatiga, serta Victor sebagai delegasi GKJTU Salatiga.
Tawa yang Dibahas Secara Akademik
Puncak Festival Humor Salatiga digelar melalui Seminar Nasional Humor dan Grand Final Clash of Comedy pada 10 September 2026 di UIN Salatiga.
Mengusung tema “Tertawa Bersama, Indonesia Bersatu: Antara Humor, Keberagaman dan Identitas”, kegiatan tersebut mempertemukan perspektif akademik dan praktik komedi.
Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.Og menilai kegiatan tersebut menarik karena mampu menggabungkan unsur akademis dan hiburan sekaligus mengangkat humor sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Sementara Wakil Rektor I UIN Salatiga Prof. Dr. Miftahuddin, M.Ag mengingatkan bahwa humor memang dapat mencairkan komunikasi, tetapi tetap membutuhkan batas etika.
Dalam seminar nasional, Dr. M. Najib Azca, M.A menyebut keberadaan komunitas stand-up comedy di Salatiga dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai identitas.
Menurut dia, kota yang tidak memiliki ruang humor lintas identitas belum tentu menjadi kota yang paling aman, tetapi bisa jadi kota tersebut belum pernah diuji oleh dinamika keberagaman.
Pandangan serupa disampaikan Dr. Hendi Pratama, M.A. Ia menilai kebebasan menyampaikan keberagaman melalui humor dapat membuat pesan sosial lebih mudah diterima selama tetap berada dalam koridor etika.
Komedi, Sekolah Kehidupan Baru
Pada babak grand final, sepuluh finalis dari kategori pelajar dan umum kembali menunjukkan kemampuan mereka.
Materi yang dibawakan menyentuh tema agama, budaya, identitas, dan keberagaman. Dari kategori umum, Yordan berhasil meraih juara pertama, disusul Alan sebagai juara kedua dan Toat sebagai juara ketiga.
Sementara kategori SMA/SMK dimenangkan Syakilla dari SMK Negeri 2 Salatiga, sedangkan Aufa dari SMA Islam Al Azhar 30 Salatiga meraih posisi kedua.
Acara kemudian ditutup dengan penampilan Chairul Mukmin, juara 1 SUCI 12 Kompas TV.
Bagi Salatiga, Festival Humor Salatiga bukan hanya tentang siapa yang paling lucu. Festival ini menunjukkan bahwa humor dapat menjadi ruang belajar sosial.
Sebab dalam sebuah tawa, ada kesempatan untuk mendengar sudut pandang orang lain. Dan di tengah masyarakat yang beragam, mungkin cara paling sederhana untuk menjaga jarak tidak semakin jauh adalah dengan menemukan alasan untuk tertawa bersama.(*)









Tinggalkan Balasan