Laporan: Muh Nafiul Kharis
UNGARAN | HARIAN7.COM – Kebudayaan tidak selalu harus hadir dalam bentuk pertunjukan besar di panggung megah. Di Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, budaya dikemas menjadi ruang belajar, tempat berkarya, sekaligus wadah pertemuan lintas generasi melalui Hasta Culture Festival (HCF) 2026.
Mengusung tema “Belajar, Berkarya, Mencintai Budaya”, festival ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat budaya sebagai sesuatu yang hidup dan terus berkembang.
Rangkaian HCF 2026 dibagi dalam tiga sesi utama. Pagi hari diisi dengan kegiatan Festival dan Edukasi, siang hari menghadirkan Karnaval Budaya Desa, sementara malamnya dilanjutkan dengan Panggung Hiburan Seni.
Pada sesi edukasi, peserta akan diajak mengenal budaya melalui kegiatan kreatif seperti Festival Membatik, Festival Mewarnai, hingga Outing Class HCF. Kegiatan tersebut menjadi cara baru mengenalkan seni kepada anak-anak dan generasi muda melalui pengalaman langsung.
Memasuki siang hari, suasana festival akan berubah menjadi perayaan budaya masyarakat desa. Karnaval Budaya, penampilan musik karawitan, serta Tari Prajuritan Kabupaten Semarang menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali seni tradisi di tengah masyarakat.
Sementara pada malam hari, panggung seni akan menghadirkan sejumlah penampil seperti Akbar Handoko, Intan Nurida, Ecoustik, Sasya Arkhisna, dan La Familia.
Kepala Desa Nyatnyono, Parsunto, mengatakan festival budaya tersebut menjadi momentum untuk memperkuat identitas desa sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat.
“Festival budaya bukan hanya tentang pertunjukan, tetapi bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal dan mencintai budaya yang menjadi bagian dari identitas Desa Nyatnyono,” ujar Parsunto di Nyatnyono, Ungaran Barat, Jumat (11/9/2026).
Menurut dia, budaya akan lebih mudah bertahan apabila dirawat melalui kegiatan yang melibatkan banyak pihak.
“Kami berharap HCF menjadi kegiatan yang mampu memperkuat kebersamaan, memberikan ruang kreativitas kepada anak-anak muda, dan mengangkat potensi Desa Nyatnyono,” katanya.
Ketua Karang Taruna Hasta Muda Nyatnyono, Suko Bintoro, mengatakan keterlibatan pemuda menjadi faktor penting agar budaya tidak hanya menjadi cerita masa lalu.
Menurut dia, generasi muda perlu diberikan ruang untuk menjadi pelaku dalam pelestarian budaya, bukan sekadar penonton.
“Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda bisa menjadi bagian penting dalam menjaga kebudayaan. Anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi pelaku, penggerak, sekaligus pengembang kegiatan budaya,” ujar Suko.
Ia menambahkan, konsep HCF 2026 yang memadukan edukasi, kesenian tradisional, karnaval, dan musik modern sengaja dibuat agar dapat diterima berbagai kalangan.
“Ada ruang untuk anak-anak, pelajar, masyarakat, seniman, dan anak muda. Harapannya terjadi interaksi antargenerasi sehingga budaya tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus hidup dan berkembang,” tuturnya.
Ketua Pelaksana HCF 2026, Muhammad Alfa Dwi Saputra, menjelaskan bahwa festival tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya datang sebagai penonton.
“Hasta Culture Festival kami konsep sebagai ruang untuk belajar, berkarya, dan mencintai budaya. Karena itu, rangkaiannya tidak hanya panggung hiburan, tetapi sejak pagi sudah dimulai dengan kegiatan edukasi dan kreativitas,” jelas Alfa.
Menurut dia, pesan utama festival adalah menghadirkan pengalaman budaya yang bisa dirasakan langsung masyarakat.
“Kami ingin masyarakat datang bukan hanya untuk menonton, tetapi ikut merasakan suasana kebudayaan, berinteraksi, dan menjadi bagian dari festival ini,” katanya.
Pemerhati Sosial Budaya Ungaran, Danu Ari, menilai HCF 2026 menjadi contoh bagaimana desa dapat menjadi pusat pengembangan kebudayaan.
Menurutnya, perpaduan seni tradisional, edukasi, karawitan, karnaval budaya, hingga musik modern menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih terbuka.
“Festival semacam ini tidak hanya memperkuat kebanggaan terhadap identitas lokal, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku seni, UMKM, komunitas, pemuda, dan masyarakat untuk berkolaborasi,” ujar Danu.
Ia berharap Hasta Culture Festival tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat.
“Dengan semangat belajar, berkarya, dan mencintai budaya, HCF 2026 dapat menjadi contoh bahwa desa mampu menjadi rumah bagi budaya yang terus hidup,” pungkasnya.(*)









Tinggalkan Balasan