Laporan Budi Santoso
NGAWI | HARIAN7.COM – Upaya memastikan mutu dan keamanan pangan bagi anak sekolah terus diperkuat. Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi menggelar pelatihan keamanan pangan siap saji bagi pekerja dan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kabupaten Ngawi (SPPG) Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Kegiatan ini berlangsung di Aula Joglo Sumber Ketonggo, Desa Kedung Prahu, Kecamatan Paron, Kamis 8 Oktober 2025.
Pelatihan tersebut diikuti oleh enam SPPG, masing-masing dari Kuniran, Beringin, Mantingan, Karangjati, Pangkur, dan Kedung Prahu. Hadir dalam acara ini perwakilan Dinas Kesehatan, Anggota DPRD dari Partai Demokrat Haris Agus Susilo, Kepala Desa Kedung Putri Suyanto, serta ratusan peserta pelatihan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi melalui Rina Diyah HS menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi langkah penting dalam memastikan para pengelola dapur bergizi memiliki kemampuan sesuai standar keamanan pangan. “Sejauh ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi telah melaksanakan pelatihan terhadap enam SPPG,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Haris Agus Susilo menekankan pentingnya program ini sebagai bagian dari prioritas nasional. “Dalam rangka mewujudkan salah satu program prioritas nasional mendukung program pemerintahan presiden Prabowo Subianto mewujudkan anak Indonesia yang sehat dan bergizi, maka pelaksanaan makan bergizi gratis menjadi perhatian bersama agar dikelola dengan baik,” ucap Haris.
Ia menambahkan, setiap SPPG harus memiliki pekerja bersertifikat penjamah makanan. Sertifikat ini menjadi bukti bahwa pengelola pangan memahami standar kebersihan dan keamanan pangan. “Ini penting untuk mencegah penyebaran penyakit dan menjaga kualitas makanan,” kata Haris. Sertifikat penjamah makanan juga menjadi salah satu syarat penerbitan Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi (SLHS) pada tempat pengolahan pangan.
Sementara itu, Rina Diyah dalam materinya menyampaikan berbagai topik penting, mulai dari kebijakan keamanan pangan siap saji, cemaran pangan, penyakit bawaan pangan, pemeliharaan lingkungan kerja, pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, hingga proses produksi pangan siap saji. Ia menegaskan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap tahapan.
“Ia berpesan agar para pekerja atau penjamah makanan dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat, sehingga makanan yang disajikan kepada anak sekolah laik dan higienis. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya kasus seperti keracunan pangan,” ujar Rina.
Berdasarkan hasil post test yang dilakukan, seluruh peserta dinyatakan telah memenuhi standar sebagai pemegang sertifikat penjamah makanan. “Hal ini menjadi penting karena sebagai seorang pengelola pangan yang akan menyajikan makanan kepada anak sekolah harus memiliki kompetensi sebagai seorang penjamah makanan yang baik,” tambahnya. (*)









Tinggalkan Balasan