Laporan: Tambah Santoso
KUDUS | HARIAN7.COM – Kamis sore itu, halaman Balai Desa Medini di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, perlahan dipenuhi warga. Anak-anak berlarian di sela kursi penonton, para orang tua duduk bercengkerama, sementara suara gamelan mulai terdengar dari kejauhan. Di desa agraris itu, tradisi Sedekah Bumi atau Apitan kembali digelar—bukan sekadar pesta rakyat, melainkan cara masyarakat menjaga hubungan dengan leluhur, alam, dan Sang Pencipta.
Tradisi tahunan yang berlangsung pada Kamis (14/5/2026) tersebut menghadirkan pagelaran wayang kulit hingga ketoprak “Langen Budoyo” dari Purwodadi, Kabupaten Grobogan. Namun, bagi warga Medini, inti acara bukan hanya pertunjukan seni yang memikat perhatian hingga larut malam.
Sebelum panggung hiburan dimulai, warga terlebih dahulu mengikuti prosesi slametan bersama. Doa-doa dipanjatkan dalam suasana khidmat sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi yang telah diperoleh sekaligus harapan agar musim panen berikutnya membawa keberkahan.
Kepala Desa Medini, Agus Sugiyanto, mengatakan rangkaian acara sengaja disusun agar nilai spiritual tetap menjadi ruh utama tradisi Apitan.
“Sebelum pagelaran wayang kulit dan ketoprak dimulai, kami mengadakan slametan bersama warga. Setelah itu, sore harinya dilanjutkan wayang kulit dan malam hari sebagai puncaknya digelar ketoprak,” ujar Agus di sela kegiatan.
Bagi masyarakat Medini yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor pertanian, Sedekah Bumi memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar agenda tahunan desa. Tradisi itu menjadi ruang berkumpul lintas generasi, tempat warga meneguhkan kembali kebersamaan sekaligus memanjatkan harapan agar sawah-sawah mereka tetap subur.
Di tengah tantangan perubahan zaman, Apitan juga menjadi penanda bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat. Ketika hiburan modern semakin mudah diakses lewat gawai, warga Medini justru tetap bertahan menikmati kisah-kisah ketoprak dan wayang kulit secara langsung, duduk berdampingan tanpa sekat usia.
Malam kian larut ketika pagelaran ketoprak “Langen Budoyo” mencapai puncaknya. Tawa penonton sesekali pecah mengikuti dialog para pemain. Sebagian warga tampak bertahan hingga dini hari, menikmati suasana hangat yang jarang ditemui dalam keseharian.
Bagi Desa Medini, menjaga tradisi Apitan bukan hanya soal mempertahankan ritual lama. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi cara masyarakat merawat identitas budaya Jawa sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Di desa kecil di wilayah Kudus itu, gamelan, doa, dan kebersamaan kembali menjadi bahasa yang menyatukan warga, bahasa budaya yang terus hidup meski zaman terus bergerak maju.









Tinggalkan Balasan