Laporan: Muhamad Nuraeni
KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Di tengah lanskap hijau Desa Duren, suara kambing kini bukan sekadar riuh kandang. Di balik suara “mbek-mbek” yang bersahutan itu, ada satu hal yang mulai tumbuh pelan tapi pasti: mesin ekonomi desa berbasis ternak.
Dari kandang sederhana milik BUMDes Sido Maju, belasan kambing Boer asal Australia tampak “mode rakus”, lahap menghabiskan pakan hijauan yang melimpah dari sekitar desa. Tapi jangan salah, di balik kesan santai itu, ada strategi serius: mengubah ternak jadi sumber cuan cepat.
Dari Sawah ke “Startup Ternak” Desa
Pemerintah desa bersama BUMDes Sido Maju kini menggarap bisnis penggemukan kambing Boer secara lebih profesional. Bukan lagi sekadar ternak sambilan, tapi diarahkan menjadi siklus produksi yang terukur.
Kepala Desa Wahyudi menyebut modal utama desa sebenarnya sudah ada di depan mata: lahan pertanian luas, pakan hijauan melimpah, dan masyarakat yang sudah akrab dengan dunia ternak.
“Untuk ternak kambing masih terbuka. Pakan mudah dicari dan harga jualnya cukup menjanjikan. Mayoritas warga petani sehingga beternak bisa dilakukan bersama,” ujarnya.
Kambing Boer: Cepat Besar, Cepat Panen, Cepat Cuan
Di kandang BUMDes, sistem yang dipakai bukan ternak biasa, melainkan penggemukan intensif. Hasilnya cukup “ngebut”: dalam waktu sekitar empat bulan, kambing sudah siap panen dan langsung dikirim ke mitra di wilayah Klaten.
Harga jualnya pun tidak main-main, bisa menyentuh sekitar Rp75 ribu per kilogram. Di level desa, ini sudah masuk kategori “bisnis serius, bukan main-main lagi”.
Ketua BUMDes Sido Maju, Choirul Fuad, menyebut kambing Boer punya “upgrade bawaan pabrik” dibanding kambing lokal.
“Meski secara fisik terlihat sama besar, kambing Boer lebih berat saat ditimbang karena tekstur dagingnya berbeda,” katanya.
Target: Panen Tiap Dua Bulan, Kandang Nambah di Dusun Lain
Tak berhenti di satu titik, BUMDes menargetkan siklus panen bisa dipercepat menjadi dua bulan sekali. Bahkan, kandang serupa mulai direncanakan dibangun di dusun lain agar efek ekonominya tidak berhenti di satu titik saja.
Jika skema ini berjalan mulus, Desa Duren berpotensi punya “rantai produksi kambing” sendiri, dari desa, untuk pasar, dan kembali ke desa dalam bentuk perputaran ekonomi.
Dari Kandang ke Ketahanan Pangan
Bagi warga, kandang kambing Boer bukan sekadar tempat pakan dan kotoran. Ia mulai dipandang sebagai simbol baru: ketahanan pangan dari level paling bawah.
Di tengah isu pangan nasional, Desa Duren justru memilih jalur yang sederhana tapi efektif: beternak, menggemukkan, lalu menjual dengan nilai tambah.
Camat Sri Sulistyowati menilai langkah ini sebagai terobosan. Selama ini, peternakan di wilayahnya masih didominasi sistem penggaduhan tradisional.
Kini, dari satu desa di Tengaran, kambing Boer bukan hanya jadi komoditas. Ia jadi cerita tentang bagaimana desa bisa “naik kelas” lewat strategi sederhana: kelola potensi lokal, maksimalkan pakan, dan percepat siklus panen.
Dan siapa sangka, dari kandang yang awalnya biasa saja, lahirlah harapan yang cukup ambisius: desa yang cuannya ikut tumbuh secepat kambing-kambing Boer di dalamnya.(*)









Tinggalkan Balasan