HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Gedung Baru, Bangku Tak Cukup: SMPN 3 Depok Bertahan di Tengah Krisis Sarana Belajar

DEPOK | HARIAN7.COM –  Gedung megah yang baru selesai direnovasi belum sepenuhnya menghadirkan kenyamanan belajar bagi siswa SMP Negeri 3 Depok. Di balik wajah baru sekolah tersebut, tersimpan persoalan mendasar: krisis meja dan bangku yang memaksa sebagian siswa mengikuti pembelajaran tanpa fasilitas standar.

Kondisi ini muncul setelah proyek pembangunan dan renovasi rampung, yang sekaligus menambah jumlah ruang kelas secara signifikan. Dari semula 10 kelas, kini SMP Negeri 3 Depok memiliki 17 ruang kelas. Sayangnya, peningkatan kapasitas ruang tidak diiringi dengan ketersediaan mebel yang memadai.

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Depok, Siswanto, mengaku prihatin melihat situasi tersebut. Meski begitu, ia menilai persoalan ini masih bisa dipahami karena sekolah baru saja menyelesaikan tahap pembangunan fisik.

Baca Juga:  Soskom Turiman Ingatkan Anak-anak Muda Untuk Solid dan Paham Tugas Serta Fungsi Komisi D

“Secara pribadi saya prihatin, tetapi kondisi ini masih bisa dimaklumi karena SMP Negeri 3 baru selesai pembangunan atau renovasi gedung,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).

Ia mengungkapkan, krisis mebel terjadi akibat tidak sinkronnya proses rehabilitasi gedung dengan pengadaan sarana penunjang pembelajaran. Renovasi bangunan menjadi kewenangan dinas teknis, sementara pengadaan meja dan bangku berada di bawah tanggung jawab Dinas Pendidikan.

“Renovasi dan pengadaan mebel tidak dilakukan dalam satu paket. Saat itu, karena keterbatasan anggaran, yang diprioritaskan adalah renovasi gedung, sedangkan mebel masih dalam tahap penghitungan,” jelasnya.

Sebelum renovasi selesai, aktivitas belajar mengajar SMP Negeri 3 sempat dialihkan ke SMP Negeri 4 Depok dengan sistem masuk siang. Mebel lama turut dipindahkan untuk mendukung kegiatan belajar sementara.

Baca Juga:  Gebyar HUT Tapos ke-18: Hamzah Soroti MTQ sebagai Simbol Kebangkitan Spiritualitas dan Persatuan"

Namun, setelah siswa kembali ke gedung baru, persoalan justru semakin terasa. Mebel yang dikembalikan jumlahnya terbatas dan sebagian besar sudah tidak layak pakai. Akibatnya, kebutuhan meja dan bangku jauh dari mencukupi jumlah kelas yang bertambah.

“Jumlahnya tidak cukup, dan banyak yang kondisinya sudah rusak,” ungkap Siswanto.

Menurutnya, keterbatasan sarana belajar ini berdampak langsung pada kualitas dan efektivitas pembelajaran. Ketua DPRD Kota Depok bersama jajaran bahkan telah turun langsung meninjau kondisi sekolah untuk memastikan persoalan tersebut benar-benar menjadi perhatian serius.

“Kami sepakat bahwa kebutuhan mebel di SMP Negeri 3 ini sangat mendesak dan harus segera ada solusi nyata,” tegasnya.

Menjawab kondisi tersebut, Pemerintah Kota Depok menyiapkan langkah percepatan melalui dua skema, yakni penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) serta dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) dari sejumlah pihak, termasuk perbankan seperti Bank BJB.

Baca Juga:  SMPN 3 Depok Tembus Perempat Final, Sakha Jadi Penentu di Laga Krusial

“Dengan skema ini, saya merasa lebih lega. Meja dan bangku bukan sekadar fasilitas, tetapi penentu kenyamanan dan keberhasilan proses belajar siswa,” ujarnya.

Sebelumnya, pihak sekolah sempat mempertimbangkan kembali memindahkan kegiatan belajar ke SMP Negeri 4 sambil menunggu pengadaan mebel. Namun, para siswa memilih bertahan di SMP Negeri 3 meski harus belajar secara lesehan menggunakan meja kecil.

“Anak-anak merasa lebih nyaman belajar di sini dibanding harus kembali masuk siang. Tapi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Secara standar, sekolah harus memiliki meja dan bangku yang layak,” pungkas Siswanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!