HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Ratusan Warga Serbu Edukasi Jamu di Bandungan, Belajar Racik Obat Tradisional Ala Pakar

Laporan: Muhamad Nuraeni

KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Suasana riuh terasa sejak pagi di Kampoeng Banyumili, Bandungan, Tuntang, Sabtu (22/11). Ratusan warga Jawa Tengah tumplek blek mengikuti kegiatan edukasi pembuatan dan penggunaan jamu. Mereka belajar langsung cara meracik obat tradisional yang aman, bermutu, dan bermanfaat.

Acara resmi dibuka oleh Elza Gustanzi, S.H., M.Si., Ketua Tim Kerja Pengendalian Harga dan Pemantauan Pasar Obat. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa jamu bukan sekadar ramuan tradisional, tetapi kekayaan budaya yang telah mendapat pengakuan dunia.

“Kita patut bersyukur dianugerahkan beragam flora dan fauna yang ada di sekitar kita dan dapat dijadikan sebagai bahan obat alami. Semoga kita dapat memanfaatkannya dengan mempelajari cara pembuatan dan penggunaannya,” harap Elza.

Baca Juga:  Aksi Kejar-Kejaran di Bandungan: Warga dan Aparat Amankan Remaja Bersenjata Tajam, Ini Jelasnya 

Kegiatan yang digelar Kementerian Kesehatan RI sebagai mitra Anggota Komisi IX DPR RI itu menghadirkan dua narasumber: Dr. H. Muhammad Haris, M.Si., Anggota Komisi IX DPR RI, dan Dian Rahayu Setianingsih, S.Si., Apt., dari Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan.

Muhammad Haris menegaskan komitmen Komisi IX dalam mendorong penggunaan jamu sebagai bagian dari pengobatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menyampaikan bahwa Komisi IX bersama Kemenkes sedang mensuport upaya pemanfaatan jamu yang memenuhi standar keamanan dan kualitas.

Baca Juga:  Kimberly Ryder Bangkit Usai Perceraian: “Support Keluarga Itu Privilege Banget Buat Aku”

Dalam sesi berikutnya, Dian Rahayu memaparkan lebih dalam tentang standar jamu yang layak konsumsi.

“Jamu yang baik harus memenuhi 3 aspek. Pertama, aman, artinya telah digunakan secara turun-temurun. Menggunakan bahan tumbuhan obat. Tidak menggunakan Bahan Kimia Obat (BKO),” paparnya.

“Kedua, bermutu, artinya diolah sesuai cara pembuatan yang baik, dan layak dikonsumsi, tidak tercar dan tidak rusak. Ketiga, bermanfaat, artinya digunakan secara teratur sesuai tujuan penggunaannya secara empiris, efek penyembuhan tidak dapat dirasakan secara langsung (tokcer, cespleng),” pungkasnya.

Baca Juga:  Nguri - uri Budaya Jawa dan Ngumpulke Balung Pisah, Keluarga Besar Wirokartono Gelar Pertunjukan Wayang Kulit

Dian juga membagikan tutorial pembuatan jamu segar yang disambut antusias peserta.

“Pertama, pilih bahan baku yang baik dan benar. Kedua, sortir lalu kupas/kerik bila perlu. Ketiga, pencucian dengan air yang mengalir. Keempat, tumbuk parut blender. Kelima, air masak/direbus. Keenam, simpan dalam wadah kaca,” pungkas Diah.

Acara ditutup dengan praktik langsung mengolah jamu, lengkap dengan sesi mencicipi hasil racikan peserta. Banyak warga mengaku ingin menjadikan keterampilan itu sebagai peluang usaha dan bagian dari gaya hidup sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!