Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA,HARIAN7.COM – Puluhan mahasiswa UIN Salatiga menyampaikan sejumlah aspirasi terkait kebijakan kampus, Rabu (7/10/2026). Alih-alih membiarkan aksi berjalan satu arah, jajaran pimpinan universitas datang menemui mahasiswa dan membuka ruang dialog.

Aksi berlangsung di Kampus 3 UIN Salatiga dan dimulai sekitar pukul 09.30 WIB.

Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi Langsung awalnya berkumpul di depan kantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Mereka kemudian bergerak menuju gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) hingga berhenti di depan lapangan voli.

Lima spanduk dibentangkan mahasiswa. Sejumlah persoalan disampaikan, antara lain terkait KKN reguler, kebijakan MBKM, mekanisme pengambilan kebijakan, kesesuaian bidang dosen, UKT, nomenklatur Psikologi Islam, hingga persoalan masuknya aparat penegak hukum (APH) ke lingkungan kampus.

Mahasiswa menyampaikan kritik tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan UIN Salatiga. Mereka berharap berbagai persoalan yang dirasakan mahasiswa mendapat perhatian dan evaluasi dari pihak universitas.

Respons dari pihak kampus kemudian terlihat ketika jajaran pimpinan UIN Salatiga hadir langsung menemui mahasiswa.

Wakil Rektor I Prof Miftahuddin dan Wakil Rektor II Prof Suwardi datang menerima aspirasi mahasiswa. Sejumlah pimpinan fakultas juga turut hadir, di antaranya Dekan FTIK Prof Rasimin dan Dekan Fakultas Dakwah Prof Adang.

Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Berbagai persoalan yang disorot mahasiswa pun dapat dibahas dalam forum terbuka bersama pihak kampus.

Di sisi lain, universitas mendapat masukan langsung mengenai kebijakan dan kondisi yang dirasakan mahasiswa selama menjalani perkuliahan.

Keterbukaan ruang dialog ini membuat penyampaian aspirasi tidak berhenti pada aksi. Mahasiswa dapat menyampaikan persoalan, sementara pimpinan kampus mendapat kesempatan mendengar langsung masukan dari mahasiswa.

Bagi kehidupan kampus, komunikasi semacam ini menjadi bagian penting dalam menyikapi perbedaan pandangan.

Aspirasi mahasiswa diharapkan menjadi bahan evaluasi sekaligus mendorong komunikasi yang lebih terbuka antara mahasiswa dan pimpinan UIN Salatiga.

Dengan adanya ruang dialog tersebut, kritik mahasiswa tidak hanya menjadi tuntutan, tetapi juga dapat menjadi masukan untuk perbaikan dan kemajuan kampus ke depan.