Laporan: Tambah Santoso
KUDUS | HARIAN7.COM – Menjelang Iduladha, denyut industri rumahan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, semakin terasa. Dentingan besi berpadu suara mesin gerinda terdengar nyaris tanpa jeda dari rumah-rumah perajin pisau yang kini kebanjiran pesanan.
Momentum musim kurban menjadi berkah tersendiri bagi para perajin logam di desa tersebut. Permintaan pisau untuk penyembelihan hewan kurban dan pemotongan daging melonjak tajam dibanding hari biasa, bahkan datang dari luar daerah Kudus.
Di tengah panas tungku dan serpihan besi, para perajin harus menambah jam kerja demi mengejar target produksi. Sebab, pisau-pisau buatan tangan mereka hampir selalu habis diserbu pembeli menjelang Hari Raya Iduladha.
Salah satu perajin, Slamet Santoso, mengatakan pisau berbahan stainless steel buatannya paling banyak dicari karena dianggap lebih higienis dan tahan lama.
“Berapa pun produksi saya, saat ini ludes terjual,” ujar Slamet Santoso, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, pisau produksinya dijual dengan harga Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per buah, tergantung ukuran dan jenis bahan yang digunakan. Pemasaran masih mengandalkan pasar tradisional, terutama Pasar Kliwon, sebelum kemudian diborong tengkulak dari berbagai daerah.
“Kalau pisau buatan saya itu pemasarannya lokal di Pasar Kliwon. Dari situ kemudian akan diambil oleh para tengkulak dari luar daerah Kudus,” katanya.
Namun di balik tingginya permintaan, para perajin mengaku belum sepenuhnya menikmati lonjakan keuntungan. Harga bahan baku terus merangkak naik sejak menjelang Idulfitri lalu.
“Kalau kenaikan harga bahan baku itu sudah terjadi sejak menjelang Idulfitri. Kenaikannya bertahap. Sampai saat ini harga bahan baku aluminium antara Rp40 ribu sampai Rp45 ribu per kilogram,” jelas Slamet.
Perajin lain, Susanto, juga merasakan peningkatan pesanan dalam beberapa pekan terakhir. Ia memproduksi pisau berbahan besi dengan harga lebih terjangkau, mulai Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per buah.
“Kenaikan permintaan ini selain karena menjelang Iduladha, juga mendekati puncak orang menggelar hajatan,” kata Susanto.
Keahlian membuat pisau di Desa Hadipolo sendiri telah diwariskan secara turun-temurun. Hampir di setiap sudut desa, mudah ditemukan bengkel kecil tempat warga menempa logam menjadi alat potong yang dipasarkan hingga luar kota.
Tradisi kerajinan itu bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga identitas desa yang terus bertahan di tengah modernisasi. Saat momentum Iduladha tiba, Hadipolo kembali menunjukkan diri sebagai salah satu sentra pisau tradisional yang tetap hidup dan diburu pasar.(*)









Tinggalkan Balasan