Laporan: Muhamad Nuraeni
KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Di tengah tekanan fiskal yang dialami pemerintah desa akibat pemangkasan Dana Desa, Pemerintah Desa Karangduren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, justru berhasil menjadikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai mesin penggerak ekonomi warga.
Lewat BUMDes bernama Menuju Masyarakat Sejahtera (Menara), Desa Karangduren sukses mengembangkan berbagai unit usaha, mulai dari pengelolaan pasar tradisional, persewaan alat, hingga budidaya selada premium berbasis hidroponik yang kini diburu pasar luar daerah.
Kepala Desa Karangduren Muhamad Noor Majid mengatakan BUMDes Menara menjadi salah satu penopang utama pembangunan desa di tengah keterbatasan anggaran.
“BUMDes ini sudah berdiri sejak 2018 dan terus berkembang sampai sekarang. Bahkan hasilnya mampu menyumbang sekitar 60 persen Pendapatan Asli Desa (PADes) kami,” ujar Majid, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, unit usaha pertama yang dikembangkan ialah pengelolaan Pasar Kembangsari Baru. Setelah berjalan sukses, BUMDes kemudian merambah usaha lain seperti persewaan sound system, alat berat, hingga sektor ketahanan pangan.
Salah satu usaha unggulan terbaru ialah pengembangan green house hidroponik dan aquaponik melalui program ketahanan pangan yang bersumber dari Dana Desa.
Di lahan desa seluas sekitar 300 meter persegi, BUMDes Menara mengembangkan budidaya selada varietas premium serta ikan nila dan berbagai tanaman hortikultura lainnya.
“Fokus utama kami saat ini budidaya selada premium karena permintaannya cukup tinggi,” kata Majid.
Ia menyebut keberadaan BUMDes menjadi sangat penting setelah Dana Desa Karangduren mengalami penurunan signifikan, dari sebelumnya Rp 1,34 miliar menjadi sekitar Rp 370 juta.
Karena itu, pendapatan dari BUMDes menjadi andalan untuk menjaga keberlangsungan berbagai program prioritas desa.
“BUMDes menjadi ujung tombak ekonomi desa kami saat kondisi fiskal sedang sulit,” ujarnya.
Keberhasilan tersebut menjadikan Desa Karangduren sebagai desa dengan kontribusi PADes tertinggi dari sektor BUMDes di Kecamatan Tengaran.
Meski demikian, Majid mengakui pengembangan usaha masih terkendala modal. Pihak desa berharap ada dukungan tambahan dari pemerintah daerah agar unit usaha yang sudah berjalan dapat diperluas.
Sementara itu, pengurus BUMDes Menara bidang ketahanan pangan, Eko Prasetyo dan Rahmad Arif, mengatakan selada premium hasil budidaya mereka kini telah dipasarkan hingga luar Jawa Tengah.
“Permintaan datang dari banyak daerah, termasuk Jember, Jawa Timur,” kata Eko.
Dalam sekali pengiriman ke Jember, selada premium Karangduren bisa mencapai 65 kilogram. Harga jualnya pun relatif kompetitif, yakni sekitar Rp 25.000 per kilogram.
Menurut Eko, selada premium tersebut memiliki ukuran lebih besar, daun lebih lebar, dan rasa lebih renyah dibanding selada lokal pada umumnya.
Produksi selada hidroponik saat ini mencapai 400 hingga 500 kilogram per bulan. Namun jumlah itu dinilai masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar.
“Permintaan per minggu bisa sampai 100 sampai 200 kilogram, jadi sebenarnya pasarnya masih sangat terbuka,” ujarnya.
Selain selada, BUMDes Menara juga mengembangkan budidaya ikan nila, cabai, pare, jahe, hingga terong melalui sistem aquaponik dan pertanian konvensional.
Produk-produk tersebut dipasarkan melalui media sosial, jaringan pelanggan tetap, hingga menyuplai restoran, kafe, pedagang sayur, dan dapur program makan bergizi.
Bagi Pemerintah Desa Karangduren, keberhasilan BUMDes bukan sekadar soal keuntungan ekonomi, tetapi juga bentuk pemberdayaan masyarakat desa.
“Kami melibatkan petani, pemuda, dan pelaku usaha agar semua bisa ikut berkembang bersama desa,” kata Majid.(*)









Tinggalkan Balasan