Jalan Salib Siswa SD di Lereng Menoreh, Angkat Isu Lingkungan lewat Gunungan Hasil Bumi
MAGELANG | HARIAN7.COM – Menyambut Hari Raya Paskah, puluhan siswa SD Kanisius Kenalan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang menggelar prosesi Jalan Salib yang unik dan sarat makna di kawasan perbukitan Menoreh.
Tak sekadar menjalankan ritual doa, para siswa juga membawa pesan kepedulian lingkungan dengan mengusung gunungan hasil bumi sepanjang perjalanan.
Kepala SD Kanisius Kenalan, Yosef Unisimus Maryono, mengatakan kegiatan bertajuk “Jalan Salib Pemerdekaan” ini menjadi simbol keprihatinan terhadap kondisi bumi yang kian terbebani.
“Air, tanah, terlebih pangan. Kita saat ini punya tantangan untuk bagaimana ketersediaan pangan, terlebih untuk kami yang ada di pedesaan,” jelas Maryono di sela kegiatan.
Langkah kaki para siswa memecah kesunyian jalur Belik Kayen hingga Watu Putih, Kecamatan Borobudur. Sambil memikul salib kayu, mereka menempuh rute sejauh 4 kilometer di tengah panorama alam perbukitan Menoreh yang asri.
Yang menarik, di barisan terdepan tampak gunungan besar yang disusun dari aneka sayur dan buah hasil bumi. Seluruhnya merupakan hasil panen khas petani di lingkungan sekolah yang dikumpulkan para siswa.
Menurut Maryono, kegiatan ini bukan sekadar perjalanan iman, tetapi juga ajakan untuk menjadi pembela kehidupan dan lingkungan.
“Dalam pendidikan, untuk menyiapkan mereka hidup ke depan harus mempunyai kesadaran dan keterampilan. Kesadaran ini yang selalu harus dibangun untuk peduli akan sumber hidup di sekitar kami. Momentum paskah ini kami gunakan sebagai bentuk pembelajaran,” ujarnya.
Sepanjang perjalanan, terdapat 14 perhentian yang melambangkan kisah sengsara Yesus Kristus. Di setiap titik, siswa berhenti untuk berdoa dan merenung, memanjatkan harapan bagi masa depan yang lebih baik bagi sesama dan alam.
Maryono menambahkan, gunungan hasil bumi menjadi simbol kasih Tuhan melalui kesuburan tanah sekaligus pengingat bahwa manusia harus menjaga alam.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap para siswa tumbuh tidak hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki kepekaan ekologis.
Sementara itu, salah satu siswa kelas V, Billy Agung Dwi Saputro, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Selain menghayati perjalanan iman, ia juga mendapatkan pengalaman berharga tentang pentingnya menjaga lingkungan.
“Kita sadar bahwa kita itu penjaga lingkungan itu dapat menghasilkan hal yang baik dan hari ini lebaran ini kan harga pokok juga naik dan maka kita menanam dan menggunakan hasil kebun kita sendiri,” ujar Billy.
Ia mengungkapkan, rute yang dilalui cukup menantang dengan tanjakan dan jalan berbatu licin di bawah rindangnya pepohonan.
Meski demikian, kebersamaan dan semangat gotong royong membuat perjalanan terasa bermakna.
“Ya, lumayan susah juga. Saya merasa senang karena saya tahu bahwa alam itu penting bagi kehidupan. Karena untuk masa depan besok,” kata Billy.(RA)













Tinggalkan Balasan