Laporan: Muhamad Nuraeni

KAB.SEMARANG,HARIAN7.COM – Dinamika Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 di Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, menghadirkan sosok perempuan yang membawa gagasan pengembangan potensi desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Nikmatul Aima, 60 tahun, menyatakan keinginannya maju sebagai calon kepala desa bukan untuk mengejar kepentingan ekonomi pribadi. Ia mengaku terdorong oleh keprihatinan terhadap potensi Desa Bener yang dinilainya belum dimanfaatkan secara optimal.

“Justru karena saya sudah tidak butuh apa-apa, saya ingin berjuang. Saya prihatin, kita punya potensi, tetapi kenapa potensi itu tidak kita kembangkan dan tidak kita gunakan,” kata Nikmatul saat menjelaskan alasannya maju dalam kontestasi Pilkades.

Menurut dia, Desa Bener memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk mendorong kesejahteraan warga. Namun, berdasarkan pengamatannya sejak kecil hingga berusia 60 tahun, perkembangan desa tersebut dinilai belum menunjukkan perubahan yang berarti.

Kondisi itu mendorongnya ingin menghadirkan perbaikan di berbagai sektor, terutama pengembangan ekonomi masyarakat dan optimalisasi potensi lokal.

“Kalau dibilang perubahan mungkin terlalu ekstrem. Saya ingin ada perbaikan, terutama di Desa Bener,” ujarnya.

Usung Pengembangan Wisata Berbasis Potensi Wilayah

Salah satu program yang disiapkan Nikmatul adalah mengembangkan potensi alam dan wilayah desa menjadi destinasi wisata. Menurut dia, pengembangan tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing wilayah.

Ia menyebut sejumlah kawasan yang dinilainya memiliki potensi, antara lain Karang Balong, Kadiporo, Bener yang berdekatan dengan Cebongan, serta Tugu.

Nikmatul mencontohkan kawasan Tugu yang memiliki pasar. Keberadaan pasar tersebut, menurut dia, dapat dimaksimalkan sebagai pusat kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Di Tugu itu ada pasar. Bisa kita maksimalkan untuk sentra UMKM. Kita punya pasar sendiri, kenapa harus menggunakan pasar orang lain?” tuturnya.

Selain itu, ia melihat potensi alam di wilayah lain yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

Bagi Nikmatul, pengembangan wisata tidak hanya bertujuan mendatangkan pengunjung, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran destinasi wisata diharapkan dapat meningkatkan aktivitas perdagangan sekaligus memperluas pasar bagi produk UMKM setempat.

Meski demikian, rencana tersebut membutuhkan perencanaan yang matang, termasuk pemetaan potensi setiap wilayah dan pengelolaan yang berkelanjutan.

Siapkan Alternatif Pendanaan di Luar Dana Desa

Nikmatul menyadari pengembangan potensi desa membutuhkan dukungan anggaran. Di tengah keterbatasan dana desa, ia menyatakan telah menjajaki kemungkinan kerja sama dengan pihak swasta untuk merealisasikan program yang direncanakan.

Ia mengaku telah melakukan pendekatan kepada sejumlah calon investor yang dinilai berpotensi mendukung pengembangan desa.

“Kita bukan hanya ngomong doang. Kita punya program, rencananya begini. Kalau dari pemerintah tidak bisa, kita cari alternatif dengan pihak swasta,” katanya.

Ia juga menyebut kemungkinan membangun komunikasi dengan pihak-pihak yang dapat mendukung program melalui jalur pemerintahan maupun lembaga perwakilan rakyat.

Namun, rencana kerja sama tersebut masih perlu dijabarkan lebih lanjut, termasuk bentuk investasi, mekanisme kerja sama, pengelolaan aset desa, serta manfaat ekonomi yang akan diterima masyarakat.

Menurut Nikmatul, keterlibatan pihak swasta diharapkan dapat menjadi alternatif pembiayaan agar pengembangan potensi desa tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah.

Dorong Digitalisasi Pelayanan Desa

Selain pengembangan ekonomi, Nikmatul menyoroti perlunya pembenahan pelayanan administrasi pemerintahan desa.

Ia menilai sistem pendataan yang masih sederhana dan dilakukan secara manual perlu ditingkatkan agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Menurut dia, pemanfaatan teknologi digital dapat membantu mempercepat pelayanan, meningkatkan efisiensi administrasi, serta memudahkan pengelolaan data.

“Sekarang semuanya ada dalam satu genggaman. Kenapa tidak kita maksimalkan? Sekarang itu tidak sulit dan tidak mahal,” ujarnya.

Ia menambahkan, digitalisasi juga perlu diikuti peningkatan kompetensi aparatur desa. Dengan demikian, penggunaan teknologi tidak hanya menjadi perubahan sistem administrasi, tetapi benar-benar berdampak terhadap kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Gagasan tersebut, menurut dia, perlu diterapkan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan desa dan kemampuan sumber daya manusia yang tersedia.

UMKM Akan Didata dan Dibina

Persoalan lain yang menjadi perhatian Nikmatul adalah pengembangan UMKM. Ia menilai pelaku usaha lokal masih membutuhkan pendampingan, khususnya dalam pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital.

Menurut dia, produk UMKM berpotensi berkembang apabila didukung pembinaan yang tepat dan strategi promosi yang menjangkau pasar lebih luas.

Karena itu, ia merencanakan pendataan UMKM secara menyeluruh sebagai langkah awal untuk mengetahui jenis usaha, produk yang dihasilkan, serta kebutuhan masing-masing pelaku usaha.

Setelah pendataan, program pembinaan dan pendampingan pemasaran akan disiapkan agar produk lokal memiliki peluang lebih besar untuk dikenal masyarakat.

“Nanti kita data semua UMKM, kemudian kita adakan pembinaan. Kita bantu juga untuk pemasarannya,” kata Nikmatul.

Ia menilai pemasaran digital dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan promosi tanpa harus mengandalkan penjualan secara konvensional.

Dalam gagasannya, pengembangan wisata dan pemberdayaan UMKM merupakan dua program yang saling berkaitan. Destinasi wisata dapat menjadi ruang pemasaran produk lokal, sedangkan produk UMKM yang berkembang dapat menambah daya tarik ekonomi desa.

Tantangan Mewujudkan Gagasan

Sejumlah gagasan yang disampaikan Nikmatul menempatkan pengembangan ekonomi lokal, digitalisasi pelayanan, dan pemberdayaan UMKM sebagai bagian penting dari rencana pembangunan Desa Bener.

Namun, realisasi program tersebut nantinya akan bergantung pada perencanaan yang terukur, ketersediaan pendanaan, kesiapan aparatur, serta partisipasi masyarakat.

Pengembangan wisata, misalnya, memerlukan pemetaan potensi, kesiapan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, dan model usaha yang dapat memberikan manfaat nyata bagi warga.

Sementara itu, digitalisasi pelayanan membutuhkan sistem yang sesuai dengan kebutuhan administrasi desa, dukungan sumber daya manusia, serta pengelolaan data yang baik.

Bagi Nikmatul, tujuan utama dari gagasan tersebut adalah mendorong potensi yang selama ini dinilai belum maksimal agar dapat memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat.

Kontestasi Pilkades Desa Bener pun menjadi ruang bagi para calon untuk menawarkan gagasan dan meyakinkan warga mengenai arah pembangunan desa ke depan.

Bagi Nikmatul, tantangan utamanya bukan sekadar menawarkan perubahan, melainkan bagaimana gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi program yang realistis dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Bener.