Laporan: Muhamad Nuraeni
KAB.SEMARANG,HARIAN7.COM – Santri dituntut tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mampu berpikir kritis, mengikuti perkembangan zaman, dan berinovasi tanpa meninggalkan tradisi pesantren. Penguasaan ilmu, penguatan karakter, dan tanggung jawab menjadi bekal penting bagi santri untuk berkontribusi menuju Indonesia Emas.
Pesan tersebut mengemuka dalam upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pesantren Nurul Islam Tengaran, Kamis (22/10/2026).
Dalam amanatnya, Ustaz Dr. H. Muh. Haris, S.S., M.Si., menekankan empat modal yang perlu dimiliki santri untuk menyongsong Indonesia Emas, yakni ilmu yang mendalam, karakter yang kuat, tradisi yang berakar, serta keberanian untuk berinovasi.
Semangat tersebut sejalan dengan refleksi Hari Santri Nasional 2026 yang menyoroti pentingnya penerapan ilmu dan adab dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjadi santri bukan sekadar tentang siapa yang paling lama duduk di hadapan Qur’an atau paling tertib menjalani rutinitas, melainkan tentang bagaimana ilmu, adab, dan tanggung jawab benar-benar hidup dalam diri seseorang serta identitas tersebut harus diterapkan di kehidupan sehari-hari.”
Refleksi tersebut juga mengajak santri untuk melihat kembali sejauh mana proses belajar mampu membentuk pribadi yang memahami perkembangan zaman dan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Ilmu dan Karakter Harus Berjalan Beriringan
Dalam amanatnya, Muh. Haris menyoroti pentingnya mengembangkan kemampuan intelektual selama menempuh pendidikan di pesantren. Masa pendidikan menjadi kesempatan bagi santri untuk memaksimalkan potensi intelektualnya.
Namun, kecakapan intelektual perlu berjalan beriringan dengan karakter yang kuat. Keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu pedoman dalam membentuk akhlak dan perilaku santri.
Di sisi lain, santri diharapkan tetap menjaga tradisi keilmuan yang berakar pada keteladanan para kiai. Kebiasaan bersalaman dengan ustaz dan ustazah menjadi salah satu contoh tradisi yang mencerminkan penghormatan kepada guru.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, santri juga dituntut berani bertanya, berpikir kritis, dan terbuka terhadap pengetahuan baru.
Menjaga nilai-nilai pesantren tetap penting. Namun, ilmu yang diperoleh juga perlu dikembangkan agar dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
18 Santri Terima Penghargaan Santri of The Year 2026
Rangkaian peringatan Hari Santri Nasional di Pesantren Nurul Islam Tengaran dilanjutkan dengan pengumuman penerima penghargaan Santri of The Year 2026.
Penghargaan tersebut diberikan kepada santri terpilih berdasarkan kategori dan kriteria yang ditetapkan oleh para asatidz.
Dari jenjang SMP, penerima penghargaan yakni Ahmad Husni Alfatih, Muhammad Afif Ubada, Muhammad Fatih Arrosyid, Candice Zafirah Dwi Wahyuni, Nadhifa Putri, dan Aida Muthmainah.
Dari jenjang SMA, penerima penghargaan yakni Erland Brian Prayoga, Mohamad Akbar Al-Faqih, Alfarezel Wildan Purnomo, Clairin Anindya Riswara, Annisa Khansa Dewi, dan Hilwa Althafunnisa.
Sementara itu, dari jenjang MA, penerima penghargaan yakni Syafiq Arzaq Shidqi, Althaf Nail Syauqi Merlyn, Muhammad Hilmiy, Mahira Sajwa Athiyya, Adzra Yumna Salsabila, dan Hanifa Larasati.
Pekan Lomba Jadi Ajang Pengembangan Diri
Sebelum upacara puncak, Pesantren Nurul Islam Tengaran menggelar pekan perlombaan pada 12–20 Oktober 2026. Berbagai kegiatan tersebut menjadi wadah bagi santri untuk mengembangkan kemampuan, mencoba pengalaman baru, dan membangun kerja sama.
Santriwati mengikuti lomba puisi berantai, nasyid, tartil, drama, dan Miss Knowledge. Adapun santriwan mengikuti lomba futsal, tenis meja, pidato bahasa Indonesia, Lomba Cerdas Cermat Islam (LCCI), dan bulu tangkis.
Perlombaan tersebut tidak hanya berorientasi pada kemenangan. Santri juga belajar menghargai proses, menunjukkan kemampuan, bekerja sama, serta menjunjung tinggi sportivitas.
Persiapan menuju Indonesia Emas, sebagaimana pesan dalam peringatan Hari Santri, dimulai dari kesungguhan dalam belajar, mengembangkan kemampuan, dan memanfaatkan ilmu untuk membantu sesama.
Dengan ilmu yang mendalam, karakter yang kuat, tradisi yang terjaga, serta keberanian untuk berinovasi, santri diharapkan mampu mengambil peran dalam kehidupan masyarakat dan berkontribusi bagi masa depan bangsa.(*)









Tinggalkan Balasan