Laporan: Ratmaningsih
TEMANGGUNG | HARIAN7.COM – Pengalaman khas yang selama ini hanya bisa dirasakan langsung di Pasar Papringan kini diabadikan dalam bentuk karya seni visual. Melalui pertunjukan live painting bertajuk Triptych Papringan, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bersama Spedagi Movement menghadirkan cara baru untuk mendokumentasikan denyut budaya yang tumbuh di tengah rimbunnya bambu Dusun Ngadiprono, Temanggung.
Pertunjukan yang menjadi bagian dari rangkaian Malam Papringan: Tedhak Rasa pada Kamis (29/5/2026) itu menyuguhkan proses penciptaan karya secara langsung di hadapan pengunjung. Setiap goresan yang muncul di atas kanvas menjadi rekaman visual tentang hubungan erat antara manusia, alam, dan budaya yang selama ini menjadi ruh Pasar Papringan.
Menariknya, karya tersebut tidak menggunakan medium konvensional. Seniman memanfaatkan arang bambu dan ampas kopi sebagai material utama, bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat sekaligus mencerminkan semangat keberlanjutan yang selama ini diusung Pasar Papringan.
Triptych Papringan terdiri atas tiga panel yang saling terhubung, yakni Yang Menjaga, Yang Hidup, dan Yang Terasa. Ketiganya menggambarkan kesinambungan alam sebagai ruang kehidupan, masyarakat yang menghidupkan ruang melalui aktivitas dan kebersamaan, serta pengalaman personal yang dirasakan setiap individu ketika hadir dan berinteraksi di dalamnya.
Kreator karya, Jonathan Santoso, menjelaskan bahwa Triptych Papringan lahir dari pengamatannya terhadap Pasar Papringan sebagai ruang budaya yang unik.
“Melalui Triptych Papringan, pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi arsip visual yang dapat terus dinikmati dan direfleksikan,” ujarnya.
Menurut Jonathan, karya ini tidak sekadar menghadirkan bentuk visual, melainkan menjadi media untuk menyimpan memori kolektif yang tumbuh dari interaksi masyarakat dengan lingkungan dan tradisi yang mereka rawat bersama.
Sementara itu, Supervisor Spedagi Movement sekaligus Supervisor Special Event Malam Papringan, Ika Permata Hati, menilai seni memiliki kekuatan sebagai bahasa alternatif dalam menyampaikan pesan budaya kepada masyarakat.
“Triptych Papringan menunjukkan bahwa ada bahasa lain ketika kita ingin berkomunikasi. Bukan hanya melalui bahasa verbal, tetapi juga melalui upaya menyampaikan pesan tentang Malam Papringan, tentang Pasar Papringan, dan tentang Ngadiprono melalui bahasa visual berupa lukisan,” kata Ika.
Ia menambahkan, karya tersebut menjadi jembatan bagi masyarakat untuk memahami nilai-nilai yang hidup di Pasar Papringan melalui pendekatan yang lebih emosional dan reflektif.
Melalui penyelenggaraan Malam Papringan Tedhak Rasa, mahasiswa UMN bersama Spedagi Movement berharap dapat membuka ruang apresiasi budaya yang lebih luas. Tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, kegiatan ini juga mendorong lahirnya berbagai interpretasi kreatif terhadap warisan budaya lokal yang terus berkembang.
Dengan memadukan proses live painting, penggunaan material lokal, serta narasi yang berangkat dari pengalaman ruang budaya desa, Triptych Papringan menghadirkan pendekatan alternatif dalam mendokumentasikan sekaligus memperluas apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal Indonesia.(*)









Tinggalkan Balasan