Laporan: Tambah Santoso
PATI | HARIAN7.COM – Laut pagi di pesisir Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kamis (4/6/2026), berubah menjadi panggung budaya yang sarat makna. Deretan perahu nelayan yang berhias warna-warni bergerak perlahan meninggalkan dermaga, membawa sesaji menuju laut lepas. Di atas gelombang yang tenang, ribuan warga menyaksikan sebuah tradisi tua yang terus bertahan melintasi generasi: Sedekah Laut Banyutowo.
Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar hamparan air yang menghasilkan ikan. Laut adalah ruang hidup, tempat harapan dititipkan dan rezeki diperjuangkan setiap hari. Karena itu, setiap tahun warga Banyutowo menggelar larung sesaji sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tangkapan yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Sejak pagi, kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Banyutowo dipadati warga, tokoh masyarakat, dan para nelayan. Suasana berlangsung khidmat ketika doa-doa dipanjatkan sebelum sesaji diberangkatkan menuju tengah laut.
Prosesi yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat pesisir Pati itu diawali dengan pembukaan acara, sambutan Ketua Panitia Sedekah Laut Sugiyono, pembacaan doa, hingga pelepasan rombongan perahu yang mengantar sesaji ke perairan Banyutowo.
Di balik kemeriahan tradisi tersebut, aparat keamanan juga bersiaga penuh. Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polresta Pati bersama Polsek Dukuhseti dan Pos TNI AL Banyutowo melakukan pengamanan sejak kegiatan dimulai hingga prosesi larung sesaji selesai dilaksanakan.
Satu unit perahu karet, tujuh life jacket, ring buoy, serta perangkat megaphone disiagakan untuk mendukung pengamanan. Personel ditempatkan di sejumlah titik strategis mulai dari area TPI, dermaga, hingga jalur pelayaran menuju lokasi larung sesaji.
Kasat Polairud Polresta Pati, Kompol Hendrik Irawan, mengatakan kehadiran aparat bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian tradisi masyarakat pesisir yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, Sedekah Laut Banyutowo mengandung nilai budaya yang kuat karena merepresentasikan semangat kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Tradisi Sedekah Laut Banyutowo bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan warisan budaya masyarakat pesisir yang memiliki nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, kami hadir untuk memastikan kegiatan dapat berlangsung dengan aman dan khidmat,” kata Hendrik.
Pengamanan dilakukan secara menyeluruh mengingat prosesi melibatkan banyak perahu dan masyarakat yang berada di kawasan laut. Selain melakukan pengawalan, personel Satpolairud juga memberikan edukasi mengenai keselamatan pelayaran, termasuk pentingnya penggunaan jaket pelampung dan kepatuhan terhadap kapasitas angkut perahu.
Hendrik menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas kemaritiman, terutama saat kegiatan budaya yang melibatkan banyak peserta.
Ia juga mengapresiasi sinergi antara panitia, pemerintah desa, TNI AL, Polsek Dukuhseti, dan masyarakat nelayan yang membuat seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan kondusif.
Bagi warga Banyutowo, Sedekah Laut bukan hanya ritual tahunan. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat pesisir selalu memiliki hubungan erat dengan alam. Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, larung sesaji tetap menjadi cara masyarakat menjaga ingatan kolektif tentang laut yang telah memberi kehidupan.
Ketika sesaji perlahan hilang di antara hamparan biru Laut Jawa, warga yang memenuhi dermaga seolah kembali meneguhkan satu pesan yang diwariskan para leluhur: rasa syukur tidak hanya diucapkan, tetapi juga dirawat melalui tradisi yang terus hidup dari generasi ke generasi.(*)









Tinggalkan Balasan