DEPOK | HARIAN7.COM — Tradisi “cuci perabot” yang menjadi bagian dari rangkaian Lebaran Depok kembali dihidupkan sebagai pengingat kearifan lokal masyarakat tempo dulu. Sekretaris KOOD, Nina Susana, menegaskan bahwa tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan kebersihan fisik, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan sosial.

Menurut Nina, kebiasaan mencuci seluruh peralatan rumah tangga menjelang Idulfitri merupakan refleksi upaya menyucikan diri setelah menjalani ibadah Ramadan. Tradisi tersebut mencerminkan keseimbangan antara kebersihan hati dan lingkungan.

“Orang tua kita dulu memaknai lebaran sebagai momentum kembali ke fitrah. Jadi bukan hanya hati yang dibersihkan, tetapi rumah dan seluruh perabot juga ikut disucikan,” ujarnya di Kota Depok, Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan, pada masa lalu kegiatan ini dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan seluruh anggota keluarga. Mulai dari membersihkan dapur hingga mencuci berbagai peralatan memasak, semua dikerjakan dengan semangat kebersamaan.

Selain itu, tradisi menjelang Lebaran juga diwarnai kegiatan sosial seperti pembagian hasil empang dan memasak dodol secara gotong royong. Nilai berbagi menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat saat itu.

“Dulu, hasil empang dibagikan ke tetangga, terutama yang membutuhkan. Begitu juga dengan dodol, dimasak bersama lalu dibagikan. Ada rasa kebersamaan yang kuat,” kata Nina.

Ia menilai, tradisi tersebut mengajarkan nilai keadilan sosial dan solidaritas yang kini mulai jarang ditemui. Perubahan gaya hidup membuat sejumlah tradisi perlahan ditinggalkan, termasuk kebiasaan sederhana yang sarat makna seperti “cuci perabot”.

Melalui momentum Lebaran Depok, tradisi ini kembali diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman. Nina menekankan pentingnya memahami proses di balik tradisi, bukan sekadar hasil akhirnya.

“Sekarang semuanya serba praktis, tinggal membeli. Padahal dulu penuh proses dan kebersamaan. Nilai itulah yang ingin kita hidupkan kembali,” tuturnya.

Sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya, KOOD terus mendorong agar tradisi lokal tidak hanya dikenang, tetapi juga dipraktikkan dan diwariskan. Ia berharap generasi muda dapat memahami serta mengapresiasi akar budaya mereka.

“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Tradisi ini adalah identitas kita,” ucapnya.

Dengan diangkatnya kembali tradisi “cuci perabot”, Lebaran Depok diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang pembelajaran budaya yang memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat modern.