Kirab Manten Tebu di PG Rendeng Kudus, Tradisi Lama yang Menjaga Asa Produksi Gula
Laporan: Tambah Santoso | Editor: Muhamad Nuraeni
KUDUS | HARIAN7.COM – Aroma manis tebu mulai menyerbak di kawasan Pabrik Gula Rendeng, Kabupaten Kudus. Penanda dimulainya musim giling 2026 ini tak sekadar aktivitas industri, melainkan juga perayaan budaya lewat tradisi Kirab Manten Tebu, ritual sarat makna yang terus dijaga lintas generasi.
Prosesi kirab berlangsung meriah. Iringan kesenian barong membuka barisan, diikuti sepasang batang tebu pilihan yang dirias bak pengantin. Keduanya menjadi simbol utama dalam tradisi yang memadukan nilai spiritual, budaya, dan harapan akan keberkahan hasil panen.
Pada musim giling tahun ini, “mempelai” tebu diberi nama Raden Bagus Langgeng Laksono Widodo dan Roro Sri Rahayu Semseming Manis. Nama tersebut mengandung filosofi mendalam—tentang kebaikan yang abadi, kesejahteraan hidup, hingga manisnya hasil yang diharapkan membawa berkah bagi semua pihak.
General Manager PG Rendeng, Erwin Fitri Hatmoko, menegaskan bahwa kirab ini bukan sekadar seremoni pembuka musim giling. “Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tetapi juga doa agar musim giling berjalan lancar dan menghasilkan produksi yang optimal,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Di balik nuansa budaya yang kental, target produksi tetap menjadi fokus. Tahun ini, PG Rendeng menargetkan penggilingan 400 ribu ton tebu, meningkat dari capaian tahun lalu sebesar 328 ribu ton. Dengan proyeksi rendemen sekitar 7 persen, produksi gula kristal diperkirakan mencapai 28 ribu ton.
Upaya mencapai target tersebut turut didukung kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk KPH Purwodadi. Administratur KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, menyebut pihaknya telah menyiapkan lahan seluas 120 hektare untuk penanaman tebu.
“Dari luas lahan tersebut, potensi panen kita bisa mencapai lebih dari 1.000 ton dalam sekali panen,” jelasnya.
Tradisi Kirab Manten Tebu di PG Rendeng menjadi contoh bagaimana warisan budaya tetap hidup di tengah modernisasi industri. Lebih dari sekadar simbol, ritual ini memperkuat optimisme petani, pekerja pabrik, hingga pemangku kepentingan dalam menyongsong musim giling yang produktif.
Dengan sinergi antara tradisi dan strategi produksi, musim giling 2026 di Kudus diharapkan bukan hanya sukses secara industri, tetapi juga memberi dampak ekonomi nyata bagi petani tebu lokal sekaligus mendukung target swasembada gula nasional.(*)













Tinggalkan Balasan