HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Ketika Siswa “Menggugat” Pendidikan yang Terlalu Akademis di Salatiga

Laporan: Fera Marita

SALATIGA | HARIAN7.COM – Cara pandang pendidikan yang selama ini berfokus pada hafalan dan capaian akademik semata mendapat “gugatan” dari para siswa. Sekelompok siswa SD Lebah Putih dan SMP Arunika di Salatiga menyuarakan kritik tersebut dalam audiensi bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Salatiga, Kamis (30/4/2026).

Audiensi yang digelar di Taman Wisata Sejarah Salatiga itu menjadi ruang bagi siswa kelas 4 dan 5 SD serta kelas 7 SMP untuk menyampaikan hasil pembelajaran mereka yang berangkat dari realitas sehari-hari.

Kepala SD Lebah Putih, M. Darojat Bayu Adi, mengatakan pendekatan belajar yang diterapkan tidak lagi menempatkan siswa sebagai penerima materi semata. Sebaliknya, siswa didorong untuk terlibat aktif melalui proses observasi, wawancara, analisis, hingga merumuskan solusi.

Baca Juga:  Kurang Konsentrasi, Mobil Tabrak Pohon di JLS Salatiga; Lima Orang Luka Ringan

“Di tengah dominasi pembelajaran yang masih berfokus pada hafalan dan capaian akademik, anak didik kami menghadirkan pendekatan berbeda. Ini menjadi kritik halus terhadap praktik pendidikan yang sering kali terputus dari realitas,” ujar Bayu.

Dalam forum tersebut, siswa dibagi menjadi dua tim. Tim pertama mengangkat isu budaya lokal, seperti kesenian drumblek dan kuliner tradisional cimpleng yang dinilai belum banyak dikenal masyarakat. Mereka tak hanya mengidentifikasi persoalan, tetapi juga menawarkan solusi berupa pengembangan gim berbasis budaya lokal dan integrasi materi budaya dalam kurikulum yang lebih kontekstual.

Adapun tim kedua menyoroti potensi kuliner khas Salatiga. Berdasarkan eksplorasi lapangan, siswa menilai kekayaan rasa kuliner belum diimbangi dengan promosi yang kuat. Mereka kemudian mengusulkan program wisata edukatif berupa food tour dan lokakarya interaktif bersama pelaku usaha kuliner.

Baca Juga:  Sambut Hari Bhayangkara Ke 79, Polresta Cilacap Dan TNI Gelar Olahraga Bersama Pererat Sinergitas

Bayu menilai, pendekatan tersebut menjadi bukti bahwa pembelajaran dapat melampaui ruang kelas. “Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga melalui aksi nyata berbasis riset, empati, dan solusi,” katanya.

Kepala Disbudpar Salatiga, Henni Mulyani, mengapresiasi keberanian sekaligus kedalaman berpikir para siswa. Ia menilai model pembelajaran semacam ini mencerminkan arah pendidikan yang ideal.

“Anak-anak tidak hanya diajak memahami, tetapi juga dilibatkan dalam memikirkan masa depan kotanya,” ujar Henni.

Baca Juga:  Kapolri Lepas 93 Atlet Polri ke Ajang WPFG 2025 di Amerika Serikat

Menurut dia, sejumlah gagasan yang disampaikan siswa bahkan selaras dengan program pemerintah, seperti pemanfaatan media publik untuk promosi budaya dan penguatan aktivitas di Rumah Budaya Salatiga.

Bayu menambahkan, kegiatan ini sekaligus menyoroti anomali dalam praktik pendidikan, mulai dari minimnya konteks pembelajaran hingga terbatasnya ruang bagi suara siswa.

“Audiensi ini bukan sekadar pertemuan, tetapi momentum refleksi bahwa pendidikan seharusnya menjadi ruang bagi anak untuk terlibat aktif dalam kehidupan nyata,” ujarnya.

Ia menegaskan, tujuan belajar tidak hanya memahami dunia, tetapi juga membentuknya. Generasi muda, menurut dia, perlu didorong tidak hanya kritis, tetapi juga mampu menjadi pemecah masalah dalam kehidupan nyata.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Berita Lainya

Tutup
error: Content is protected !!