Didesak Evaluasi Total Studi Tour Sekolah, LKIS: Kecelakaan Bus Bukan Sekadar Insiden Lalu Lintas
Laporan: Tambah Santoso
KUDUS | HARIAN7.COM – Insiden kecelakaan bus Berlian Jaya yang mengangkut rombongan pelajar salah satu SMP di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memicu desakan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyelenggaraan kegiatan luar sekolah. Peristiwa ini dinilai bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan cermin lemahnya standar keselamatan transportasi pendidikan.
Ketua Lembaga Kajian Strategis (LKIS), Sururi Mujib, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Ia menilai, keselamatan siswa kerap belum menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan kegiatan seperti studi tour.
“Ini bukan hanya soal kecelakaan, tetapi bagaimana sistem pengadaan transportasi sekolah dijalankan. Keselamatan siswa harus menjadi prioritas absolut, bukan sekadar pelengkap administrasi,” ujar Sururi kepada Harian7.com, Rabu (29/4/2026).
Menurut dia, persoalan tidak hanya berhenti pada faktor teknis di lapangan. LKIS juga menyoroti dugaan kejanggalan dalam proses pemilihan vendor transportasi oleh pihak sekolah. Sururi mengungkap adanya indikasi praktik monopoli terselubung yang berpotensi membatasi pilihan armada yang lebih layak dan aman.
Ia menjelaskan, penggunaan perusahaan transportasi yang sama secara berulang tanpa proses seleksi terbuka dapat menghambat kompetisi sehat. Dampaknya, kualitas perawatan kendaraan dan layanan berisiko menurun.
“Jika benar ada pola penggunaan satu perusahaan secara eksklusif, ini harus diusut. Jangan sampai ada pihak yang mengambil keuntungan di atas risiko nyawa pelajar,” katanya.
Atas dasar itu, LKIS mendesak instansi pendidikan dan regulator transportasi untuk segera melakukan audit menyeluruh. Sejumlah aspek yang perlu diperiksa antara lain kelayakan kendaraan melalui uji KIR, kondisi kesehatan sopir dan kru sebelum keberangkatan, serta transparansi dalam pengadaan jasa transportasi.
Sururi berharap, insiden ini menjadi momentum pembenahan sistemik di dunia pendidikan. Ia mengingatkan, kegiatan studi tour yang sejatinya bertujuan edukatif tidak boleh berubah menjadi sumber risiko akibat lemahnya pengawasan.
“Jangan sampai kegiatan edukatif yang bertujuan menambah wawasan justru berubah menjadi duka. Sistem ini harus diperbaiki dari hulu ke hilir,” ujarnya.













Tinggalkan Balasan