HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Ribuan Pecinta Seni Padati Temanggung, Tradisi “Mepe Jaran Kepang” Jadi Magnet Budaya

TEMANGGUNG | HARIAN7.COM – Tradisi “Mepe Jaran Kepang” sukses menyedot perhatian ribuan pecinta seni tradisional dalam gelaran Pagelaran Seni Kerakyatan Temanggung bertajuk “Nadi Tradisi”, yang digelar di lapangan Desa Ketitang, Kecamatan Jumo.

Kegiatan yang diinisiasi komunitas pecinta jaran kepang ini tak hanya menjadi ruang pertunjukan budaya, tetapi juga ajang silaturahmi lintas daerah bagi para pelaku dan penikmat kesenian tradisional.

Seniman jaran kepang asal Temanggung, Supri Wanto, mengatakan ritual “Mepe Jaran Kepang” atau menjemur kuda lumping menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut.

Baca Juga:  Buldoser Gubernur Turun ke Pantai Jodo, Target Zero Waste 2029 Digelorakan

“Ini adalah Kopdar Jaran Kepang. Tidak hanya pelaku seni, tapi juga mereka yang memang senang dengan jaran kepang,” kata Supri, Minggu (29/3/2026).

Ia menjelaskan, tradisi ini telah beberapa kali digelar dan kini memasuki sekitar pelaksanaan kelima. Dari Temanggung, gaung kegiatan ini mulai merambah daerah lain.

Baca Juga:  Perseteruan Nuril CS dan Kades Klurahan Terkait Kepengurusan Sertifikat Yang Tak Kunjung Selesai, Akhirnya Berujung Sepakat

“Alhamdulillah, berkat kegiatan ini, teman-teman dari luar kota mulai terinspirasi. Di luar Temanggung, seperti Magelang, Semarang, bahkan Boyolali, sudah mulai ada kegiatan serupa,” tuturnya.

Dalam tradisi jaran kepang, terdapat rangkaian ritual sakral sebelum pertunjukan dimulai, yakni jamasan atau proses penyucian properti. Setelah itu, jaran kepang dijemur atau “dipepe” sebagai bagian dari tradisi.

Tingginya antusiasme terlihat dari jumlah peserta yang mencapai sekitar 1.000 orang. Mereka datang dari berbagai daerah, seperti Demak, Banjarnegara, Wonosobo, hingga sejumlah wilayah lain di luar Temanggung.

Baca Juga:  Naik Daun di Tengah Persaingan Ketat, Damarmas Jadi Primadona Baru Minyak Goreng Lokal Salatiga

Fenomena ini menunjukkan bahwa jaran kepang tidak lagi sekadar kesenian lokal, melainkan telah berkembang menjadi identitas budaya yang mampu menyatukan berbagai kalangan dan daerah.

Melalui kegiatan ini, para penggiat seni berharap tradisi jaran kepang terus lestari sekaligus semakin dikenal generasi muda di seluruh Indonesia.(Dit)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!