Harga Minyak Dunia Naik Usai Serangan Houthi ke Israel, Ketegangan Timur Tengah Meningkat
INTER | HARIAN7.COM – Harga minyak dunia melonjak pada awal perdagangan Asia, Senin (30/3/2026), setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke Israel. Aksi ini dinilai membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk Mei tercatat naik 2,92 persen menjadi 115,86 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat menguat 3,20 persen ke level 102,80 dollar AS per barel.
Kelompok Houthi sebelumnya, pada Sabtu, menyatakan telah menembakkan sejumlah rudal balistik ke target militer Israel yang mereka sebut sebagai “sensitif”. Pernyataan itu disampaikan juru bicara Houthi, Yahya Saree, melalui unggahan di platform X.
Serangan tersebut disebut sebagai bentuk dukungan terhadap Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Ini juga menjadi keterlibatan langsung pertama Houthi dalam konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah ini bermula dari serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, ketegangan terus meningkat dengan potensi meluasnya konflik antarnegara di kawasan.
Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menilai pasar global mulai merespons kemungkinan harga minyak dan suku bunga yang tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Menurut Yardeni, risiko konflik berkepanjangan dapat menekan pasar keuangan global, terutama jika gangguan terhadap jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz terus terjadi.
Ia juga mengingatkan bahwa potensi blokade di Selat Hormuz dapat memperdalam tekanan pasar dan meningkatkan risiko resesi global. Ketidakpastian terkait konflik, termasuk kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat yang lebih besar, dinilai akan menjaga volatilitas pasar tetap tinggi hingga distribusi minyak kembali normal.
“Kecepatan dan besarnya kenaikan ini menunjukkan bagaimana pasar energi dengan cepat menyesuaikan risiko geopolitik, sekaligus memperkuat potensi gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz,” tulis Yardeni dalam catatannya.(Ril)













Tinggalkan Balasan