Laporan: Shodiq
KAB.SEMARANG,HARIAN7.COM – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Ketapang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, bakal menghadirkan persaingan yang tak biasa. Petahana Muhammad Niam dipastikan berhadapan dengan istrinya sendiri dalam kontestasi yang dijadwalkan berlangsung pada Senin Kliwon, 14 Desember 2026.
Situasi itu terjadi lantaran hingga batas akhir pendaftaran, tidak ada warga lain yang mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa. Alhasil, Pilkades Ketapang hanya diikuti dua kandidat yang masih terikat hubungan suami-istri.
Saat ditemui di kediamannya, Rabu (4/11/2026), Niam mengatakan dirinya kembali maju untuk melanjutkan pengabdian kepada masyarakat. Pilkades kali ini sekaligus menjadi pencalonan terakhirnya setelah dua periode memimpin Desa Ketapang.
“Insyaallah ikut kompetisi Pilkades lagi di 14 Desember Senin Kliwon meniko. Kami akhirnya maju dengan istri saya, Pak. Kita tidak ada yang ikut mendaftarkan itu, akhirnya saya sendiri dan istri saya,” ujar Niam.
Dia mengaku sebenarnya sempat menunggu kemungkinan munculnya calon lain dari masyarakat. Namun, sampai batas akhir penjaringan, tidak ada warga yang mendaftarkan diri.
Niam memaknai kondisi tersebut sebagai amanah untuk kembali melanjutkan kepemimpinan desa. Ia menyebut niatnya maju bukan semata-mata mengejar jabatan, melainkan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian.
Periode Terakhir, Bidik Desa Berdaya
Jika kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat, Niam ingin menjadikan periode ketiganya sebagai momentum membawa Desa Ketapang naik kelas.
Selama kepemimpinannya, Ketapang telah meraih status Desa Mandiri. Desa tersebut juga terpilih sebagai percontohan Desa Antikorupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2024.
Dua capaian itu menjadi modal untuk melanjutkan pembangunan dengan target yang lebih luas, terutama memperkuat kemandirian ekonomi dan tata kelola pemerintahan desa.
“Harapan kami, dengan ketetapan yang sudah menjadi Desa Mandiri ini, kami akan melanjutkan menjadi desa berdaya secara ekonomi, pemerintahan, dan bidang-bidang lainnya,” kata Niam.
Ia ingin mewujudkan Desa Ketapang sebagai wilayah yang makmur, mandiri, dan memberikan manfaat bagi masyarakat, sejalan dengan cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Pertanian hingga Perikanan Jadi Andalan
Untuk mewujudkan target tersebut, Niam menyiapkan sejumlah strategi dengan mengandalkan potensi ekonomi lokal.
Salah satunya melalui penguatan kelembagaan ekonomi desa, dengan mendorong sinergi antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Ketapang dan Koperasi Desa Merah Putih.
Sektor pertanian organik yang selama ini menjadi salah satu produk unggulan juga akan terus dikembangkan. Selain itu, sektor peternakan diharapkan tetap menjadi bagian dari penopang kemandirian ekonomi warga.
Di bidang perikanan, Desa Ketapang juga bersiap menyambut program Kampung Nelayan Modern dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Program tersebut mencakup pembangunan kolam ikan berukuran besar yang diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan desa.
Dua Periode Kepemimpinan
Muhammad Niam mulai memimpin Desa Ketapang pada periode 2012–2019. Selanjutnya, ia kembali menjabat pada periode 2019–2026.
Masa jabatan periode kedua yang semula enam tahun kemudian mengalami penyesuaian menjadi delapan tahun seiring perubahan regulasi tentang desa.
Kini, Pilkades 2026 menjadi kesempatan terakhir bagi Niam untuk kembali memimpin Desa Ketapang.
Kontestasi kali ini pun bukan hanya soal siapa yang akan menduduki kursi kepala desa, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan Ketapang ke depan.









Tinggalkan Balasan