Laporan: Shodiq

KAB.SEMARANG,HARIAN7.COM – Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 di Desa Tawang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, menghadirkan persaingan yang tidak biasa. Kepala Desa (Kades) petahana M. Jatmiko harus berhadapan dengan istrinya sendiri dalam perebutan kursi kepala desa.

Pengusaha tambang batu berusia 46 tahun itu kembali maju untuk periode kedua. Namun, kali ini lawan politiknya bukan orang lain, melainkan pasangan hidupnya sendiri.

Di tengah persaingan tersebut, Jatmiko mengaku masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang ingin dituntaskan. Mulai dari pembangunan infrastruktur jalan, penguatan ekonomi masyarakat, hingga pengembangan potensi wisata desa.

Saat ditemui di kediamannya, Rabu (4/11/2026), Jatmiko mengatakan keputusannya kembali maju dilandasi keinginan melanjutkan program yang belum sepenuhnya terealisasi selama periode pertama.

Menurut dia, jabatan kepala desa bukan sekadar posisi yang harus diperebutkan, tetapi amanah untuk mengayomi dan membawa masyarakat menuju kemajuan.

“Masyarakat melihat saya menjalankan pemerintahan secara normatif dan sederhana sesuai aturan regulasi yang ada. Pilkades ini bukan jabatan untuk diperebutkan, tetapi bagaimana makna menjadi pemimpin yang bisa mengayomi setelah terlantik,” kata Jatmiko.

Salah satu pekerjaan rumah yang menjadi perhatiannya adalah pembangunan infrastruktur jalan. Dengan luas wilayah Desa Tawang yang hampir mencapai 700 hektare, pemerataan pembangunan masih menjadi tantangan.

Jika kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat, Jatmiko menargetkan penyelesaian pembangunan jalan sekaligus mendorong peningkatan ekonomi warga.

Mayoritas masyarakat Desa Tawang bekerja di sektor pertanian. Karena itu, ia berharap pemerintah pusat dapat memberikan dukungan pembangunan embung untuk menunjang kebutuhan pengairan lahan pertanian.

Selain pertanian, pengembangan desa wisata juga masuk dalam rencana program berikutnya.

Jatmiko turut menyoroti perkembangan UMKM kerajinan anyaman bambu yang mulai menunjukkan potensi ekonomi menjanjikan.

Ia mengklaim, melalui program edukasi, para perajin kini semakin mandiri dalam mengelola dan memasarkan produknya. Bahkan, pemasaran kerajinan bambu tersebut sudah menjangkau sejumlah daerah, seperti Sragen, Solo, Purwodadi, hingga Klaten.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam mengelola usaha tersebut ikut membantu memutus ketergantungan terhadap tengkulak dari luar daerah.

Sementara itu, menghadapi kontestasi Pilkades dengan jumlah 4.060 pemilih yang tersebar di 11 dusun, Jatmiko menegaskan tidak ingin menggunakan politik uang untuk mendapatkan dukungan.

Ia mengaku lebih memilih menawarkan program yang manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat, seperti pengadaan ambulans desa dan pemenuhan fasilitas olahraga bola voli bagi kalangan anak muda.

Jatmiko juga berharap persaingan dalam Pilkades kali ini tidak merusak kerukunan warga. Terlebih, kontestasi yang mempertemukan dirinya dengan istri sendiri berpotensi menjadi perhatian masyarakat.

Ia ingin masyarakat tetap menjaga suasana kondusif dan tidak menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.

Menurut Jatmiko, pendidikan politik perlu terus diberikan, terutama kepada generasi muda, agar demokrasi di tingkat desa berjalan sehat dan tidak memicu perpecahan.

Ia juga berharap kepemimpinan desa ke depan bisa diteruskan melalui proses demokrasi yang damai, termasuk ketika masa jabatannya berakhir setelah dua periode.

Baginya, pembangunan Desa Tawang tidak boleh berhenti hanya karena pergantian pemimpin. Yang lebih penting adalah keberlanjutan program dan keterlibatan masyarakat dalam memajukan desa.