Laporan: Shodiq

KAB.SEMARANG,HARIAN7.COM – Kerusakan saluran irigasi Rejoso di Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur. Kebocoran tanggul yang tak kunjung tertangani membuat aliran air terhenti sebelum mencapai persawahan. Akibatnya, sekitar 500 hektar lahan pertanian di lima desa hingga wilayah Kabupaten Boyolali terancam kehilangan pasokan air.

Ironisnya, persoalan yang berdampak langsung terhadap kehidupan ratusan petani itu hingga kini belum mendapatkan penanganan nyata. Berbagai upaya pemerintah desa untuk meminta bantuan disebut sudah dilakukan, mulai dari mengajukan permohonan hingga menyampaikan aspirasi kepada anggota dewan. Namun, hasilnya belum terlihat.

Kepala Desa Gentan, Kecamatan Susukan, Mulyadi, mengatakan sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Selama ini, mereka mengandalkan aliran irigasi Rejoso untuk mengairi sawah.

Namun, kondisi saluran yang rusak dan dipenuhi kebocoran membuat air tidak mampu mengalir secara optimal hingga ke lahan pertanian.

“Karena tingkat kerusakan saluran itu, air sampai di Desa Gentan saja susah. Habis di jalan karena banyaknya kebocoran tanggul irigasi. Kalau musim penghujan, tanggulnya selalu jebol,” ujar Mulyadi saat diwawancarai.

Padahal, jangkauan irigasi Rejoso cukup luas. Aliran tersebut menjadi sumber pengairan bagi lahan pertanian di Desa Ketapang, Gentan, Samban, hingga Desa Bantengan yang masuk wilayah Kabupaten Boyolali.

Kerusakan saluran tersebut membuat persoalan tidak hanya dirasakan warga Desa Gentan, tetapi juga petani di sejumlah wilayah yang bergantung pada jaringan irigasi tersebut.

Mulyadi mengungkapkan, pemerintah desa sebenarnya sudah berupaya mencari jalan keluar. Permohonan bantuan telah disampaikan melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) tingkat kecamatan. Aspirasi kepada anggota dewan juga telah disampaikan.

Bahkan, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jawa Tengah sempat datang meninjau kondisi saluran irigasi dan meminta pemerintah desa mengajukan proposal secara daring.

Namun, setelah diminta membuat proposal, pemerintah desa justru mengaku belum mendapatkan petunjuk yang jelas mengenai mekanisme maupun jalur pengajuan bantuan tersebut.

“Kami disuruh membuat proposal, tapi mau diarahkan ke mana, kami tidak ada petunjuk. Kami juga sudah bilang-bilang ke aspirasi dewan, tapi selama ini belum ada yang mengabulkan,” keluhnya.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai tindak lanjut hasil peninjauan lapangan. Sebab, bagi petani, kerusakan irigasi bukan persoalan administratif yang bisa menunggu tanpa kepastian. Setiap musim tanam yang terlewat berarti ancaman terhadap pendapatan dan keberlangsungan hidup mereka.

Dampaknya diperkirakan mencapai sekitar 500 hektar lahan pertanian di lima desa yang berada dalam jangkauan irigasi Rejoso hingga wilayah Boyolali. Lahan tersebut dilaporkan mengalami kekurangan air karena aliran irigasi tidak sampai ke bagian hilir.

Sejumlah petani di Desa Gentan bahkan mengaku tidak bisa mengolah sawah saat musim kemarau. Mereka terpaksa membiarkan lahan menganggur dan hanya berharap hujan segera turun agar aktivitas pertanian bisa kembali berjalan.

Kondisi ini tentu menjadi persoalan serius. Di tengah upaya menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan, infrastruktur pengairan yang menjadi kebutuhan dasar petani justru belum mendapatkan kepastian perbaikan.

Mulyadi pun meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, khususnya Dinas Pekerjaan Umum, tidak berhenti pada peninjauan maupun permintaan pengajuan proposal. Ia berharap ada tindakan konkret untuk memperbaiki kerusakan saluran irigasi Rejoso.

“Untuk itu, saya meminta dari pemerintah provinsi segera menangani terkait dengan keluh kesah petani, khususnya masyarakat Desa Gentan. Saya berharap Dinas PU Provinsi secepatnya menangani kerusakan saluran di Rejoso itu,” pungkasnya.

Bagi ratusan petani yang menggantungkan hidup pada aliran irigasi tersebut, yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar janji penanganan atau prosedur pengajuan bantuan, melainkan perbaikan fisik yang nyata agar air kembali mengalir ke sawah mereka.