SALATIGA | HARIAN7.COM – Lahan sawah yang telantar selama kurang lebih tiga tahun disulap menjadi lahan produktif oleh Komunitas Alumni GMNI Kota Salatiga. Mereka menerapkan metode penanaman padi yang disebut.

Hasilnya mulai terlihat. Komunitas tersebut menggelar panen padi jenis Rojolele di lahan seluas sekitar 1.600 meter persegi di wilayah Cabean RT 05 RW 01, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Kamis (29/10/2026) pagi.

Penggerak Komunitas Alumni GMNI Kota Salatiga, Bintar Lulus Pradipta, mengatakan, program tersebut berawal dari diskusi mengenai praktik pertanian warisan nenek moyang yang kemudian dipelajari dan diterapkan untuk mendukung ketahanan pangan.

Menurut Bintar, metode WaNeMo dikembangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan salah satu senior alumni GMNI, Lilik, alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), selama kurang lebih 15 tahun.

“Dari dasar itulah dan diinisiasi oleh senior alumni GMNI, akhirnya berhasil ditemukan metode yang diberi nama WaNeMo, artinya Warisan Nenek Moyang. Jenis padi yang kita tanam ini Rojolele,” kata Bintar saat ditemui di sela-sela panen.

Berawal dari Lahan Bero Tiga Tahun

Sebelum ditanami padi, lahan milik Bejo, warga Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, tersebut dalam kondisi tidak terawat selama sekitar tiga tahun.

Lahan itu sebelumnya ditanami ketela pohon dan dipenuhi rumput ilalang yang tingginya mencapai dua meter. Kondisi tersebut sempat membuat komunitas ragu untuk mengolahnya kembali menjadi sawah produktif.

Namun, mereka memutuskan membersihkan lahan secara bertahap. Proses pembersihan menggunakan mesin pemotong rumput membutuhkan waktu tiga hari sebelum tanah mulai diolah.

Setelah bersih, lahan diberi pupuk kandang berupa kotoran kambing atau yang dalam istilah lokal disebut inthil wedhus. Jumlah pupuk yang digunakan mencapai sekitar 1,5 ton atau 80 zak untuk lahan seluas 1.600 meter persegi.

Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan takaran yang menurut Bintar biasa digunakan, yakni sekitar lima kuintal untuk luas lahan yang sama.

“Setelah ditebari pupuk kandang, lahan didiamkan terlebih dahulu kurang lebih satu minggu sampai sepuluh hari. Setelah itu, tanah diolah menggunakan traktor dan siap ditanami padi,” ujarnya.

Pola Tanam Berbeda dari Kebiasaan Petani

Keunikan metode WaNeMo juga terlihat pada pola penanaman. Komunitas ini menggunakan sistem jajar legowo dengan jarak antartanaman sekitar 30 sentimeter dan jarak legowo 50 sentimeter.

Mereka juga menerapkan pola tanam yang disebut taju, singkatan dari nata maju, berbeda dari kebiasaan tandur atau nata mundur yang lazim dikenal petani.

Dalam praktiknya, petani terlebih dahulu membuat larikan atau saluran kecil sebagai jalur penanaman. Bibit kemudian ditanam satu per satu mengikuti pola tersebut.

Bintar mengakui, pada awal pertumbuhan, hasil penanaman sempat membuat mereka khawatir karena tanaman terlihat belum berkembang seperti yang diharapkan.

Namun, seiring waktu, pertumbuhan tanaman dinilai semakin baik. Dari pengamatan mereka, satu rumpun padi bahkan dapat berkembang menjadi sekitar 80 batang.

“Awalnya model tanam ini sepertinya tidak mau berkembang. Namun, akhirnya justru mekarnya lebih bagus. Setelah berkembang, kita hitung bisa menjadi kurang lebih 80 batang padi,” kata Bintar, didampingi Anton dan Noval.

Target 5 Kuintal Gabah

Panen perdana tersebut melibatkan sekitar 10 petani dari wilayah Cabean. Selain hasil panen, jerami padi juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak milik para petani.

Komunitas Alumni GMNI Kota Salatiga menargetkan hasil panen mencapai lima kuintal gabah, yang diharapkan dapat menghasilkan sekitar tiga kuintal beras.

Bintar menyebut target tersebut sebagai capaian awal dari upaya mereka mengembangkan metode WaNeMo sekaligus menghidupkan kembali lahan pertanian yang sebelumnya tidak produktif.

“Ini merupakan target pemula dari kami,” ujarnya.

Panen tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong pemanfaatan lahan telantar melalui praktik pertanian yang mengutamakan pupuk organik dan mempelajari kembali kearifan lokal.

Meski demikian, keberhasilan metode WaNeMo dalam meningkatkan produktivitas padi masih memerlukan pembuktian melalui pengukuran hasil panen dan penerapan pada lahan yang lebih luas.

Dengan demikian, pengalaman dari lahan Cabean tidak hanya menjadi upaya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan pertanian berbasis kearifan lokal di Salatiga.

(Heru Santoso)