Laporan: Muhamad Nuraeni
SALATIGA, HARIAN7.COM – Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Kota Salatiga resmi dilantik di Grand Wahid Hotel, Salatiga, Sabtu (3/10/2026).
Pelantikan tersebut menjadi langkah awal kepengurusan baru GEKRAFS Salatiga untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi pelaku usaha kreatif di Kota Salatiga.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) GEKRAFS Jawa Tengah Berty Diah Rahmana mengatakan, Salatiga menjadi daerah pertama dalam rangkaian pelantikan GEKRAFS di Jawa Tengah.
Menurut Berty, Salatiga memiliki potensi ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan tidak hanya untuk pasar lokal dan nasional, tetapi juga hingga pasar internasional.
“Memang Salatiga tujuan pertama kita. Kita nginepnya juga di Salatiga. Dari pusat dan berbondong-bondong, sekitar ada 20 orang dari pusat ke sini karena excited ke Salatiga,” kata Berty.
Berty mengatakan, GEKRAFS merupakan organisasi yang mewadahi pelaku ekonomi kreatif yang kini mencakup 21 subsektor.
Ia menyebut GEKRAFS telah terbentuk di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Dalam rangkaian pelantikan kali ini, empat daerah mendapatkan kepengurusan baru, yakni Salatiga, Kabupaten Semarang, Purbalingga, dan Banyumas.
“GEKRAFS di Jawa Tengah ini ada di setiap kabupaten kota, tapi yang sekarang masih aktif jabatannya itu ada empat. Ditambah nanti hari ini ada empat lagi yang akan kita lantik, Salatiga, Kabupaten Semarang, Purbalingga, dan Banyumas,” ujarnya.
Produk Salatiga mulai dibawa ke luar negeri
Berty menilai potensi ekonomi kreatif Salatiga sudah mulai terlihat dari produk-produk lokal yang diperkenalkan ke pasar luar negeri.
Bahkan, kata dia, calon Ketua DPC GEKRAFS Kota Salatiga telah aktif membawa produk ekonomi kreatif Salatiga ke luar negeri sebelum kepengurusan resmi dilantik.
“Calon ketuanya memang aktif di bidang ekraf. Dia juga potensi-potensi ekraf dibawa. Belum dilantik aja anggotanya, produk-produknya sudah dibawa keluar negeri,” kata Berty.
Menurut Berty, kondisi tersebut menjadi modal untuk memperluas jaringan pemasaran produk kreatif asal Salatiga.
GEKRAFS, lanjut dia, juga memiliki jaringan di sejumlah negara yang dapat dimanfaatkan untuk membuka peluang kerja sama dan pemasaran.
“Kemarin mendampingi saya juga kalau di Malaysia. Bulan ini kita ada pelantikan di China, di Hong Kong, jadi memang jaringannya luas,” ujarnya.
Berty berharap produk ekonomi kreatif Salatiga tidak berhenti di pasar lokal.
“Jangan disia-siakan, Mbak Cak Ketum ya. Apa yang ada di Salatiga semoga bisa dieksplor keluar, di nasional maupun di luar negeri, karena memang pintunya terbuka luas,” kata Berty.
Salatiga didorong menjadi DPC aktif
Berty juga membuka peluang kolaborasi antara pelaku ekonomi kreatif Salatiga dengan jejaring GEKRAFS di luar negeri.
“Di GEKRAFS ini ada yang di luar negeri juga. Bapak ibu, kita bisa kolaborasi untuk sister city-nya. Terbuka lebar,” ujarnya.
Ia berharap kepengurusan baru DPC GEKRAFS Salatiga dapat menjadi penggerak pengembangan ekonomi kreatif di daerah.
“Harapan saya memang, Salatiga menjadi yang teraktif DPC-nya, Mbak Ayu ya, teraktif dibandingkan DPC-DPC yang lain. Karena saya percaya memang Salatiga ini kota anak kreatif,” kata dia.
GEKRAFS: Kreativitas sebagai sumber pertumbuhan ekonomi
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GEKRAFS H. Kawendra Lukistian mengatakan, Salatiga memiliki modal sosial dan potensi kreatif yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.
Menurut Kawendra, keberagaman masyarakat Salatiga menjadi salah satu potensi dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif.
“Salatiga adalah Kota ke-2 tertua di Indonesia, pernah mendapatkan predikat sebagai Kota Terindah. Saat ini banyak sekali potensi yang besar, bahkan banyak yang menjuluki Salatiga ini adalah Indonesia mini, karena di sini dari Sabang sampai Merauke ada,” kata Kawendra.
Ia mengatakan, sumber pertumbuhan ekonomi saat ini tidak hanya berasal dari sumber daya alam. Kreativitas dan gagasan manusia juga dapat menjadi sumber ekonomi baru.
“Kalau kita bicara sekarang potensi ekonomi dunia, itu sekarang mulai bertransformasi. Bukan hanya bicara soal ekonomi ekstraktif yang ada di dalam bumi, tapi ekonomi kreatif yang ada di dalam pikiran,” ujarnya.
Kawendra juga menilai sejumlah gagasan Pemerintah Kota Salatiga dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
Salah satunya gagasan menjadikan Salatiga sebagai giant rest area yang dinilai dapat membuka ruang usaha baru bagi pelaku ekonomi kreatif.
“Tadi saya rasa soal menjadi giant rest area itu ide yang luar biasa. Karena kenapa, kita itu tidak harus selalu berlari, butuh olahraga, butuh istirahat sejenak di tempat rest area yang paling nyaman, itu pasti akan dicari,” katanya.
Jaringan GEKRAFS terbuka untuk kolaborasi bisnis
Kawendra mengatakan, keberadaan GEKRAFS di Salatiga juga diharapkan membuka akses kolaborasi bagi pelaku ekonomi kreatif.
Menurut dia, GEKRAFS telah memiliki jaringan di 38 provinsi, sekitar 300 kabupaten/kota, serta perwakilan di 18 negara.
“Artinya apa, peluang kerja samanya ada,” kata Kawendra.
Ia mencontohkan kolaborasi GEKRAFS dalam mendukung pelaku ekonomi kreatif di Nusa Tenggara Barat.
Pelaku ekonomi kreatif GEKRAFS NTB, kata Kawendra, terlibat dalam produksi suvenir dan merchandise untuk penyelenggaraan MotoGP di Mandalika.
“Kalau teman-teman datang ke Mandalika, nonton MotoGP, maka teman-teman mungkin membeli suvenir, mungkin membeli merchandise. Di sana yang memproduksi adalah GEKRAFS NTB ini. Sudah tahun ke-3,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut melibatkan jaringan GEKRAFS dari sejumlah daerah. Bahan baku pada awalnya didukung GEKRAFS Jawa Barat, sedangkan permodalan dibantu GEKRAFS Jakarta.
“Begitupun sama, beberapa negara juga teman-teman sudah mulai berkolaborasi,” katanya.
Kawendra berharap pola kolaborasi tersebut dapat diterapkan di Salatiga sehingga GEKRAFS tidak hanya menjadi wadah bagi pelaku ekonomi kreatif, tetapi juga membuka akses pasar, kerja sama, dan peluang usaha.
Ekonomi kreatif disebut menjadi mesin pertumbuhan baru
Kawendra mengatakan, sektor ekonomi kreatif mendapat perhatian dalam kebijakan pemerintah.
Ia menyebut Indonesia telah memiliki Kementerian Ekonomi Kreatif serta Hari Ekonomi Kreatif Nasional yang diperingati setiap 24 Oktober.
“Ekonomi kreatif, masa depan Indonesia. Apalagi kita adalah negara pertama di dunia yang memiliki Kementerian Ekonomi Kreatif,” ujarnya.
Selain itu, Kawendra menyebut pemerintah telah mengalokasikan pembiayaan intellectual property (IP) untuk sektor ekonomi kreatif sebesar Rp 10 triliun per tahun.
“Jadi banyak nanti produk-produk kreatif yang bisa menjadi kolateral di perbankan. Itu sudah ada alokasi dari pemerintah,” katanya.
Menurut Kawendra, ekonomi kreatif juga masuk dalam Asta Cita Presiden sebagai bagian dari kerangka pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Kalau teman-teman perhatikan, ada di sana soal ekonomi kreatif, yang mana adalah kerangka besar ekonomi. Pertumbuhan di sana targetnya 8 persen, itu didorong oleh mesin pertumbuhan baru, yang mungkin namanya salah satunya adalah ekonomi kreatif,” ujarnya.
Ia berharap pengurus GEKRAFS Salatiga dapat memanfaatkan berbagai peluang tersebut melalui kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan berbagai pihak.
“Artinya apa, konsennya luar biasa. Tinggal kita optimalkan. Teman-teman GEKRAFS, nanti ibu ketua dan lain bisa mengoptimalkan itu, kolaborasi dengan berbagai pihak,” kata Kawendra.
Ide kreatif dari rumah bisa menjadi produk bernilai ekonomi
Ketua GEKRAFS Kota Salatiga Diah Ayu Pitaloka mengatakan, ekonomi kreatif tidak selalu lahir dari modal besar.
Menurut dia, banyak ide kreatif justru tumbuh dari lingkungan sekitar dan dikembangkan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi.
Ia menilai anak-anak muda memiliki peluang besar untuk mengembangkan gagasan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Teknologi itu akhirnya menjadi kekuatan dari masyarakat. Kalau dijadikan sesuatu, itu bukan sesuatu yang jauh dari kita. Ia ada di sekitar kita dan muncul dari anak-anak yang hari ini mungkin sedang membuat sesuatu dari kamar mereka, dari sebuah laptop, dari sebuah kamera, dari sebuah dapur kecil, atau dari sebuah ide yang belum banyak orang lihat,” kata Diah.
Ia mengatakan, GEKRAFS diharapkan menjadi wadah agar ide-ide kreatif tersebut tidak berhenti sebagai gagasan.
“Tugas GEKRAFS adalah memastikan bahwa ide-ide itu tidak berhenti, namun bagaimana ide tersebut menjadi sesuatu yang bisa dikembangkan,” ujarnya.
Diah menambahkan, pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan kolaborasi banyak pihak.
“Kami menyadari, tidak mungkin bekerja sendirian. Sehingga dibutuhkan dukungan dan kepedulian dari berbagai pihak. Ekosistem hanya akan tumbuh apabila semua pihak duduk bersama, membuka ruang komunikasi, dan berjalan bersama,” katanya.









Tinggalkan Balasan