Laporan: Budi Santoso

NGAWI | HARIAN7.COM – Di tengah gempuran makanan cepat saji dan wisata modern, ribuan orang justru rela datang ke sebuah pasar yang membawa mereka kembali ke masa lalu. Aroma nasi tiwul, getuk, tepo pecel hingga wedang rondo menjadi magnet utama dalam gelaran Pasar Jadul “Jajal Wae” di kawasan wisata Sumber Koso, Desa Girikerto, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Minggu (31/5/2026).

Keramaian pasar bernuansa tempo dulu itu menarik perhatian Bupati Ngawi, , yang hadir langsung untuk melihat geliat ekonomi kerakyatan yang tumbuh dari inisiatif masyarakat desa.

Ribuan pengunjung dari berbagai daerah memadati kawasan wisata Sumber Koso. Mereka berburu jajanan tradisional, menikmati pertunjukan seni lokal, sekaligus merasakan suasana khas pedesaan yang mulai jarang ditemukan.

Dalam sambutannya, Ony menyebut Pasar Jadul “Jajal Wae” merupakan perpaduan antara kearifan lokal, potensi alam, dan kreativitas masyarakat yang mampu menghadirkan daya tarik wisata sekaligus menggerakkan roda ekonomi warga.

“Pasar Jadul dengan slogan ‘Jajal Wae’ ini merupakan kearifan lokal yang dipadukan dengan potensi alam secara kreatif. Kegiatan ini penting untuk melestarikan budaya dan kuliner warisan leluhur agar tidak punah tergerus perkembangan zaman,” ujarnya.

Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Ngawi dalam mendukung pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat, termasuk wisata Sumber Koso di Desa Girikerto dan Watu Jonggol di Desa Pandansari.

Daya tarik pasar tersebut tidak hanya memikat warga lokal. Hani, seorang pengunjung asal Jakarta, mengaku menemukan kembali berbagai makanan yang mengingatkannya pada masa kecil.

“Kami menemukan berbagai jajanan yang sekarang sudah jarang ada. Di sini masih ada nasi tiwul, getuk, tepo pecel, wedang rondo sampai nasi bungkus daun jati. Kami sudah dua hari di sini bersama keluarga dan merasa senang karena semua petugas dan warga sangat ramah,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Girikerto, Slamet Riyadi, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Bupati Ngawi dalam kegiatan tersebut. Ia menjelaskan Pasar Jadul “Jajal Wae” digelar rutin setiap Minggu Pon atau satu bulan sekali sebagai upaya menggerakkan perekonomian warga.

Menurutnya, selain menyajikan aneka kuliner tradisional, pasar juga menjadi ruang bagi seniman lokal untuk tampil dan memperkenalkan budaya daerah kepada para wisatawan.

“Kegiatan ini kami gelar untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Kuliner tradisional dan hiburan dari seniman lokal menjadi ikon andalan kami agar mampu mendongkrak pendapatan warga,” ujar Slamet.

Bagi masyarakat Sine, Pasar Jadul “Jajal Wae” bukan sekadar tempat berjualan. Pasar ini menjadi ruang pertemuan antara nostalgia, budaya, dan ekonomi desa yang tumbuh dari akar tradisi. Di saat banyak warisan kuliner mulai menghilang, pasar ini justru membuktikan bahwa cita rasa masa lalu masih memiliki tempat di hati masyarakat.