HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Pusat Jenang Barokah 55 Kudus Tetap Diburu Pemudik, Resep Tradisional Jadi Kunci Bertahan Hampir Setengah Abad

Laporan: Tambah Santoso

KUDUS | HARIAN7.COM – Di tengah maraknya oleh-oleh modern, toko jenang legendaris Pusat Jenang Barokah 55 di Kudus tetap menjadi magnet bagi pemudik dan wisatawan saat momen Lebaran 2026. Berlokasi di Jalan Lingkar Timur Proliman Tanjung, tepatnya di depan SPBU Tanjung dan samping Hotel Grand Tanjung, toko ini tak pernah sepi dari pembeli yang berburu cita rasa khas jenang Kudus.

Usaha yang telah berdiri sejak 1979 itu kini memasuki usia sekitar 47 tahun. Meski zaman terus berubah, Pusat Jenang Barokah 55 tetap konsisten menjaga resep tradisional yang menjadi identitasnya.

Salah satu pengelola, Vinda Berlianti, mengatakan toko tersebut menyediakan beragam makanan khas Kudus. Namun khusus jenang, seluruhnya diproduksi sendiri demi menjaga kualitas rasa dan keaslian.

Baca Juga:  Usai Cuti Lebaran, Desa Sraten Kembali Maksimalkan Pelayanan Publik

“Kami jual berbagai makanan khas Kudus, tapi khusus jenang memang produksi sendiri supaya kualitas dan rasanya tetap terjaga,” ujar Vinda, Senin (30/3/2026).

Nama “Jenang Barokah” sendiri, lanjut dia, dipilih dengan harapan usaha keluarga tersebut membawa keberkahan, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat sekitar.

“Dulu diberi nama Jenang Barokah supaya rezekinya bisa membawa berkah,” katanya.

Vinda menjelaskan, usaha ini merupakan bisnis turun-temurun yang telah diwariskan dari generasi kakek-nenek, kemudian dilanjutkan orang tua, hingga kini dikelola bersama keluarga. Inovasi pun terus dilakukan, salah satunya dengan penggunaan bahan premium pilihan tanpa bahan pengawet agar jenang tetap berkualitas dan lebih tahan lama.

“Ibu mengembangkan dengan bahan premium pilihan supaya kualitas jenang tetap bagus, awet, dan tahan lama tanpa bahan pengawet,” jelasnya.

Baca Juga:  Pemprov Jateng Salurkan Subsidi Beras di Purbalingga, Tekan Harga Jual Jadi Rp11.000 per Kilogram

Proses produksi jenang pun masih mempertahankan cara tradisional yang membutuhkan waktu panjang. Untuk satu kali produksi dalam satu kawah, diperlukan waktu hingga setengah hari agar menghasilkan tekstur dan rasa yang maksimal.

“Masaknya memang lama, satu kawah bisa sampai setengah hari supaya hasilnya maksimal,” paparnya.

Memasuki Lebaran 2026, jumlah pembeli diakui mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, meski belum menyamai keramaian pada Lebaran 2024.

“Alhamdulillah ramai, tapi memang belum seramai tahun 2024. Kalau dibanding tahun 2025, tahun ini lebih mendingan,” ujarnya.

Ia menambahkan, omzet penjualan relatif stabil meski belum mengalami lonjakan signifikan. Mayoritas pembeli berasal dari perantau yang mudik serta wisatawan luar daerah yang mencari oleh-oleh khas Kudus.

Baca Juga:  Bupati Magelang Grengseng Pamuji Pilih Ngablak Jadi Titik Awal Pembangunan: “Bawa Harapan Baru dari Timur”

“Banyak yang beli untuk oleh-oleh, terutama perantau dan juga warga lokal yang membelikan untuk keluarga dari luar kota,” katanya.

Salah satu pembeli, Anggi, pengunjung asal Lampung, mengaku sengaja kembali datang ke toko tersebut karena cita rasa jenang Kudus yang khas dan tidak ditemukan di daerah asalnya.

“Makanan seperti ini tidak ada di tempat saya, cocok untuk dijadikan oleh-oleh. Ini sudah yang kedua kali saya ke sini karena cita rasanya diterima keluarga di sana,” ujarnya.

Vinda berharap, usaha keluarga yang telah berjalan puluhan tahun ini dapat terus bertahan dan berkembang, sekaligus menjaga eksistensi jenang sebagai salah satu kuliner khas Kudus yang dikenal luas masyarakat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!