Video Viral Soal “Jamak Isya dengan Subuh”Saat Safar, Suud Akui Kekeliruan dan Sampaikan Permintaan Maaf
Laporan: Shodiq
KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Potongan video berisi pernyataan mengenai tata cara salat dalam kondisi safar (perjalanan jauh) viral di media sosial dan memicu perdebatan publik. Dalam video tersebut, seorang penceramah menyebut salat Isya dapat dijamak takdim dengan salat Subuh.
Pernyataan itu segera menuai sorotan dari warganet. Banyak pihak mempertanyakan kebenarannya karena dinilai tidak sesuai dengan kaidah fikih yang umum dipahami umat Islam.
Dalam cuplikan yang beredar, disampaikan bahwa salat Isya dapat langsung dijamak dengan Subuh di awal waktu dengan alasan perjalanan, disertai ilustrasi waktu tempuh penerbangan menuju Arab Saudi yang diperkirakan sekitar sembilan jam.
Namun, sejumlah warganet hingga tokoh agama menilai penjelasan tersebut keliru. Dalam ajaran Islam, jamak salat hanya diperbolehkan untuk pasangan waktu tertentu, yakni Zuhur dengan Asar serta Magrib dengan Isya. Sementara itu, salat Subuh tidak termasuk dalam kategori salat yang dapat dijamak, baik takdim maupun takhir.
“Ini jelas salah kaprah. Tidak ada dalil yang membolehkan menjamak salat Isya dengan Subuh,” tulis salah satu pengguna media sosial dalam kolom komentar.
Perdebatan pun meluas. Sebagian warganet meminta klarifikasi dari pihak yang menyampaikan pernyataan tersebut, sementara lainnya mengimbau masyarakat agar tidak langsung mempercayai informasi keagamaan tanpa rujukan yang jelas.

Menanggapi hal itu, sosok yang diduga dalam video, Suud, menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf. Ia memperkenalkan diri sebagai Tim Petugas Haji Daerah (TPHD) Layanan Umum Kabupaten Semarang.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, mohon memperkenalkan diri, nama saya Suud, TPhD Layanan Umum Kabupaten Semarang, mengklarifikasi tentang video yang viral,” ujarnya.
Suud menjelaskan bahwa pada tanggal 29 ia diundang oleh Karom 6 SOC 22 di Kelurahan Kupang, Ambarawa. Kegiatan tersebut dihadiri ketua karom, karu, serta sekitar 25 jamaah, dengan tujuan meminta penjelasan terkait thoharoh (bersuci) dan salat di dalam pesawat.
Ia menegaskan kegiatan tersebut bukan merupakan agenda Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Semarang maupun kegiatan kiai tertentu, melainkan inisiatif dari Karom 6 yang meminta penjelasan kepadanya.
Dalam kesempatan itu, Suud mengakui terjadi kekeliruan saat menyampaikan materi.
“Secara spontan, saya salah dalam menjelaskan terkait jamak salat Subuh dengan Isya. Karena ada informasi keberangkatan pukul 21.00, secara refleks saya menjelaskan tentang jamaah Subuh dan Isya dan itu sangat-sangat salah sekali,” ungkapnya.
Ia menyebut kesalahan tersebut sebagai kesalahan fatal setelah kembali membuka literatur. Suud pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang telah melihat video tersebut, serta berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Ia juga menyampaikan bahwa klarifikasi telah dilakukan kepada jamaah yang hadir, termasuk kepada karu dan karom terkait.
“Untuk itu saya sekali lagi mohon maaf kepada seluruh masyarakat, dan saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut,” tuturnya.
Sementara itu, Fitriyanto selaku Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Tengah turut memberikan keterangan. Ia menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan klarifikasi kepada Suud terkait pernyataan tersebut.
Fitriyanto menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan inisiasi dari Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Semarang, melainkan inisiatif dari rombongan 6 kloter SOC 22.
“Terkait dengan pernyataan, beliau sudah mengakui kesalahan dan berjanji tidak akan mengulangi pernyataan seperti itu, serta telah menyampaikan permohonan maaf,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa permohonan maaf tersebut diterima dan diharapkan menjadi pelajaran bersama agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan, khususnya di ruang publik.
“Semoga ini menjadi pelajaran kita bersama dalam memberikan pernyataan,” pungkasnya.
Fenomena ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan materi keagamaan di era digital, karena dapat dengan cepat menyebar dan memicu kesalahpahaman luas.(*)













Tinggalkan Balasan