Serangan Houthi ke Israel Buka Front Baru, Jalur Perdagangan Dunia Terancam
INTER | HARIAN7.COM – Ketegangan di Timur Tengah kian memanas. Kelompok Houthi di Yaman resmi ikut terlibat dalam konflik dengan meluncurkan serangan rudal ke Israel, menandai babak baru perang yang telah berlangsung selama dua bulan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Juru bicara Houthi, Yahya Saree, menyatakan serangan dilakukan menggunakan sejumlah rudal balistik yang menyasar target militer strategis Israel.
“Angkatan Bersenjata Yaman telah melaksanakan operasi militer pertama menggunakan rentetan rudal balistik yang menargetkan lokasi militer sensitif Israel,” ujar Saree melalui akun X.
Ia menegaskan, aksi tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Militer Israel mengonfirmasi adanya peluncuran rudal dari Yaman menuju wilayahnya. Namun, ancaman itu disebut berhasil digagalkan setelah sistem pertahanan udara mencegat rudal sebelum mencapai sasaran.
Masuknya Houthi ke dalam konflik dinilai sebagai eskalasi signifikan. Perang yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu kini berpotensi meluas ke berbagai titik strategis di kawasan.
Perhatian dunia kini tertuju pada Selat Bab el-Mandeb, jalur vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Terusan Suez. Jalur ini menjadi urat nadi perdagangan global, termasuk distribusi energi. Gangguan di kawasan tersebut berisiko memicu efek domino terhadap rantai pasok dunia.
Kekhawatiran itu semakin nyata setelah perusahaan pelayaran global Maersk melaporkan insiden ledakan dan aktivitas drone di Pelabuhan Salalah, Oman. Meski seluruh awak kapal dipastikan aman, kerusakan fasilitas memaksa penghentian operasional sementara.
Maersk sebelumnya juga telah menghentikan pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb sebagai langkah antisipasi terhadap memburuknya situasi keamanan.
Di saat yang sama, tekanan terhadap pasokan energi global semakin besar setelah terganggunya Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Lonjakan risiko geopolitik ini mendorong harga minyak dunia melesat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Upaya diplomasi yang sempat diisyaratkan oleh Donald Trump belum mampu meredam kekhawatiran pasar.
Dengan keterlibatan aktor baru dan meningkatnya ancaman terhadap jalur strategis, konflik Timur Tengah kini tidak hanya berdampak regional, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi global.(Yap)













Tinggalkan Balasan