JAKARTA|HARIAN7.COM – Penguatan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Asia Tenggara tidak hanya berkaitan dengan perluasan akses pendidikan. Peningkatan kompetensi pendidik, lingkungan belajar yang inklusif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian.

Hal tersebut dibahas dalam Pertemuan Tahunan Governing Board ke-9 SEAMEO Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) di Jakarta, Senin (20/10/2026).

Pertemuan tersebut dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Suharti. Forum ini menjadi ajang evaluasi program sekaligus perumusan strategi pengembangan pendidikan dan pengasuhan anak usia dini di kawasan Asia Tenggara.

Suharti menekankan, perluasan akses PAUD perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan. Salah satu upaya yang didorong adalah pelaksanaan kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, yang mencakup satu tahun pendidikan prasekolah.

Pemerintah juga mengandalkan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk membantu anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Selain itu, pendekatan Partisipasi Semesta diharapkan dapat memperkuat keterlibatan pemerintah, keluarga, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam pendidikan anak.

Namun, perluasan akses saja tidak cukup. Menurut Suharti, peningkatan kompetensi pendidik serta penyediaan lingkungan belajar yang aman dan inklusif juga menjadi bagian penting untuk mendukung tumbuh kembang anak.

AI dan pendidikan inklusif menjadi perhatian

Direktur SEAMEO CECCEP Vina Adriany menyampaikan, lembaganya telah menjalankan berbagai program sepanjang tahun fiskal 2025/2026. Program tersebut meliputi penelitian, pengembangan kapasitas, advokasi kebijakan, dan penguatan kemitraan regional.

Salah satu perhatian SEAMEO CECCEP adalah penelitian mengenai pemanfaatan AI dalam pendidikan anak usia dini.

Kajian tersebut diarahkan untuk melihat bagaimana teknologi dapat mendukung kompetensi pendidik dan digunakan secara tepat dalam proses pendidikan. Penggunaannya tetap perlu mengutamakan kebutuhan anak, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.

Selain AI, penelitian SEAMEO CECCEP mencakup etnoparenting, yakni kajian praktik pengasuhan yang berakar pada nilai dan kearifan lokal, serta pendidikan anti-bias untuk membangun lingkungan belajar yang inklusif dan bebas diskriminasi.

Pengembangan kemampuan numerasi anak usia dini juga menjadi bagian dari agenda penelitian lembaga tersebut.

Hasil kajian diharapkan dapat menjadi landasan dalam merumuskan kebijakan dan praktik pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak serta kondisi keluarga di masing-masing negara.

Perkuat kerja sama antarnegara

Di tingkat regional, SEAMEO CECCEP mendukung penyebarluasan ASEAN–SEAMEO Joint Roadmap on Early Childhood Care and Education in Southeast Asia.

Dokumen tersebut menjadi kerangka bersama untuk mendorong sistem pendidikan dan pengasuhan anak usia dini yang inklusif, merata, dan berkualitas di Asia Tenggara.

SEAMEO CECCEP juga melanjutkan advokasi Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI). Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Pertukaran pengetahuan dan dialog kebijakan turut diperkuat melalui Centre Policy Research Network (CPRN).

Sementara itu, peningkatan kapasitas pendidik dilakukan melalui berbagai kegiatan, termasuk pelatihan guru di Malaysia menggunakan modul Our Happy Neighbourhood, pelatihan pengembangan diri bagi calon dosen pendidikan anak usia dini di Kamboja pada 2025, serta pelatihan pendidikan inklusif bersama Hiroshima University.

Webinar dan lokakarya regional juga dimanfaatkan sebagai ruang berbagi pengalaman sekaligus memperluas jejaring profesional di bidang pendidikan dan pengasuhan anak usia dini.

Vina mengapresiasi dukungan Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikdasmen Kurniawan terhadap program-program SEAMEO CECCEP. Menurut dia, kemitraan berkelanjutan diperlukan untuk memperkuat upaya bersama dalam meningkatkan kualitas layanan PAUD.

Perwakilan Sekretariat SEAMEO Alejandro Ibanez menambahkan, pertemuan Governing Board memiliki peran strategis dalam menerjemahkan prioritas regional menjadi program nyata.

Ia menilai, perkembangan AI serta perubahan pola kerja, komunikasi, dan pertukaran pengetahuan menuntut lembaga untuk terus memperkuat kapasitas, riset berbasis bukti, inovasi, dan kemitraan strategis.

Pemantauan berkala juga diperlukan untuk mengevaluasi pelaksanaan program dan mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperbaiki.

Melalui pertemuan tersebut, SEAMEO CECCEP bersama negara-negara anggota dan mitra berupaya memperkuat arah kerja sama pendidikan anak usia dini di Asia Tenggara.

Tantangannya bukan hanya memastikan semakin banyak anak memperoleh akses pendidikan, tetapi juga memastikan layanan yang mereka terima berkualitas, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.(Ril)