Laporan: Muhamad Nuraeni
SALATIGA,HARIAN7.COM – Tumpukan sampah yang tertahan di trash barrier atau penghalang sampah di Bendung Sidenan, Kota Salatiga, membuka persoalan pencemaran saluran air yang selama ini luput dari perhatian.
Sampah yang terkumpul di lokasi tersebut menjadi gambaran banyaknya limbah rumah tangga yang diduga dibuang ke saluran air, khususnya di sekitar Pasar Raya Salatiga dan perkampungan di sekitarnya.
Relawan Jaga Tirta Salatiga, Adi Nugroho, menyoroti kondisi tersebut. Menurut dia, sampah yang tertahan di Bendung Sidenan memperlihatkan buruknya perilaku sebagian warga dalam memperlakukan saluran air.
“Trash Barrier di Sidenan membuka mata kita, betapa buruknya perilaku warga khususnya di sekitar Pasar Raya dan Kampung-kampung di sekitarnya. Sampah dibuang seenaknya ke air bersih yang mengalir, sebagian tertahan di bendung Sidenan… sebanyak itu,” kata Adi, Kamis (29/10/2026).
Ia menilai persoalan sampah di saluran air tidak hanya terjadi di Bendung Sidenan. Menurut dia, hampir semua saluran air yang bersih dan bening di Salatiga berpotensi menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah.
Padahal, saluran tersebut memiliki fungsi penting bagi pertanian. Air yang mengalir di dalamnya merupakan bagian dari jaringan irigasi yang digunakan untuk mengairi sawah-sawah warga.
“Saluran air di Salatiga airnya bening dan bersih karena dekat dengan sumbernya dan merupakan irigasi sawah-sawah kita, sumber pangan,” ujarnya.
Adi mengingatkan, kebiasaan membuang sampah ke saluran air berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan yang lebih luas. Sampah tidak hanya mencemari aliran air, tetapi juga dapat terbawa hingga ke kawasan persawahan.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatiannya adalah persawahan di Pulutan dan sekitarnya, yang berada di hilir aliran air tersebut.
Ia pun mempertanyakan kesadaran masyarakat dalam menjaga air sebagai sumber kehidupan. Menurut dia, kebiasaan membuang sampah sembarangan menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
“Sungguh miris, sangat tidak beradab, apalagi bicara akhlak. Inilah cara kita memperlakukan AIR sumber kehidupan?” tulis Adi dalam pesannya.
Adi menegaskan, air merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia. Karena itu, menjaga kebersihan saluran air semestinya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya relawan atau pihak tertentu.
Adi mengajak masyarakat yang peduli terhadap lingkungan untuk mulai mengambil tindakan dan tidak membiarkan kebiasaan membuang sampah ke saluran air terus berlangsung.
Ia juga mengingatkan ancaman krisis air dan krisis pangan yang perlu diantisipasi melalui perubahan perilaku masyarakat, termasuk menjaga sumber air dan jaringan irigasi.
“Ayo semua yang masih percaya kebenaran jangan lagi diam… jangan lagi pura-pura tidak tahu… Masa depan Krisis Pangan, Krisis Air sedang menjelang,” tulisnya.
Menurut Adi, kondisi di Bendung Sidenan seharusnya menjadi peringatan bagi masyarakat Salatiga untuk lebih peduli terhadap kebersihan saluran air.
Upaya menjaga air tetap bersih perlu dimulai dari kebiasaan sederhana, yakni tidak membuang sampah dan limbah sembarangan, terutama ke saluran yang mengalir menuju lahan pertanian.
Dengan demikian, kebersihan sumber air dan keberlangsungan pertanian dapat lebih terjaga.









Tinggalkan Balasan