INTER | HARIAN7.COM – Pakistan kembali mendapatkan pasokan liquefied natural gas (LNG) dari Qatar setelah berhasil menegosiasikan perjalanan aman kapal tanker melalui Selat Hormuz dengan Iran.
Mengutip Bloomberg, kapal tanker tersebut membawa LNG dari fasilitas Ras Laffan, Qatar. Berdasarkan data pelacakan kapal, tanker telah melewati Selat Hormuz pada akhir pekan dan dijadwalkan tiba di fasilitas impor LNG Pakistan pada Selasa, 22 September 2026.
Pengiriman ini menjadi yang kedua dari Qatar ke Pakistan sepanjang September yang berhasil melewati Selat Hormuz di tengah masih terbatasnya lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut.
Kesepakatan perjalanan kapal disebut dinegosiasikan oleh pejabat pemerintah Pakistan dan Iran. Langkah ini menjadi penting bagi Pakistan yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk.
Andalkan Hubungan dengan Iran
Gangguan di Selat Hormuz membuat pasokan LNG ke sejumlah negara Asia ikut tersendat. Pakistan termasuk negara yang cukup terpukul karena sebagian besar kontrak LNG jangka menengah dan panjangnya berasal dari Qatar.
Pemerintah Pakistan kemudian memanfaatkan hubungan diplomatiknya dengan Iran untuk membuka jalur bagi sejumlah kapal LNG Qatar. Tujuannya sederhana: menjaga pasokan energi sekaligus mengurangi risiko pemadaman listrik akibat kekurangan gas.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz sendiri masih jauh di bawah kondisi normal. Reuters mencatat hanya 17 kapal komoditas yang melintasi selat tersebut pada akhir pekan, dibandingkan rata-rata sebelum konflik yang mencapai sekitar 125 kapal per hari.
Bagi Pakistan, setiap kapal LNG yang berhasil masuk berarti tambahan ruang untuk menjaga sistem energi tetap berjalan.
Harga LNG Jadi Tantangan
Pakistan sebelumnya juga mempertimbangkan pembelian LNG melalui tender apabila pengiriman dari Qatar tidak dapat melewati Selat Hormuz.
Masalahnya, membeli LNG tambahan di pasar spot bukan perkara murah. Gangguan pasokan dari Timur Tengah telah mendorong harga LNG Asia melonjak. Reuters melaporkan harga spot LNG Asia telah berada di kisaran hampir 30 dolar AS per juta British thermal unit (MMBtu), dengan risiko kenaikan lebih lanjut menjelang musim dingin.
Kondisi tersebut membuat Pakistan berada dalam posisi serba sulit: kebutuhan gas tetap tinggi, sementara jalur pasokan utama terganggu dan alternatifnya membutuhkan biaya lebih besar.
Karena itu, keberhasilan mengamankan perjalanan LNG Qatar melalui Selat Hormuz bukan sekadar urusan diplomasi. Bagi Pakistan, ini juga menyangkut pasokan listrik, industri, dan biaya energi nasional.









Tinggalkan Balasan