Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA | HARIAN7.COM – Jam kerja bagi sebagian orang mungkin menjadi batas antara pekerjaan dan waktu pribadi.

Namun, bagi Bripda Fawwaz Dhiyaul Haq Trimas, anggota Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) Polres Salatiga, berakhirnya jam dinas justru menjadi awal pekerjaan berikutnya.

Setelah menghabiskan pagi hingga sore dengan seragam kepolisian, pemuda 23 tahun itu beralih mengurus kandang sapi.

Pakan harus dicari. Ampas tahu dikumpulkan. Kandang dibersihkan. Sapi-sapi juga harus dipastikan dalam kondisi baik.

Rutinitas itu dijalani Fawwaz setelah menyelesaikan tugasnya sebagai anggota Polri.

Bukan karena ia memiliki peternakan besar.Justru sebaliknya, usaha itu bermula dari seekor sapi.

Berawal dari satu ekor sapi

Fawwaz mulai merintis usaha ternak pada pertengahan 2025.

Saat itu, muncul keinginan untuk memanfaatkan sebagian penghasilannya untuk sesuatu yang bisa dikembangkan dalam jangka panjang.

Ia kemudian memutuskan membeli seekor sapi.

“Waktu itu saya berpikir, hidup saya tidak boleh seperti ini terus. Setelah saya pikirkan dan saya kuatkan tekad, akhirnya di pertengahan 2025 saya memutuskan untuk membeli seekor sapi,” ujar Fawwaz.

Satu ekor sapi itu menjadi titik awal. Fawwaz tidak buru-buru memperbesar peternakannya. Ia menyisihkan sebagian gaji dan memanfaatkan keuntungan dari penjualan sapi untuk membeli ternak berikutnya.

Cara itu dilakukan berulang.Perlahan, jumlah ternaknya bertambah.Kini, Fawwaz memiliki delapan ekor sapi.

Diremehkan, tetapi tidak berhenti

Perjalanan tersebut tidak sepenuhnya mulus.

Fawwaz mengaku pernah mendapat komentar yang meremehkan pilihannya untuk beternak.

Bahkan, menurut dia, komentar tersebut datang dari berbagai lingkungan, mulai dari pertemanan, kantor hingga keluarga.

Namun, ia memilih menjadikan keraguan orang lain sebagai pemacu.

“Memang banyak yang meremehkan dan merendahkan mimpi yang saya punya. Ada dari lingkungan pertemanan, kantor, bahkan keluarga sendiri. Tapi saya justru menjadikannya sebagai bahan bakar untuk semakin memacu tekad saya,” katanya.

Alih-alih membalas komentar tersebut dengan perdebatan, Fawwaz memilih melanjutkan usahanya.

Jumlah sapi yang bertambah menjadi salah satu hasil dari proses itu.

Pulang dinas, mencari pakan

Memiliki delapan sapi berarti ada pekerjaan rutin yang harus diselesaikan.

Salah satunya mencari pakan.

Sepulang berdinas, Fawwaz mencari ampas tahu serta bahan pakan lainnya. Setelah terkumpul, pakan tersebut dibawa ke kandang.

Di kandang, pekerjaannya berlanjut.

Ia memberi makan sapi, membersihkan kandang dan memeriksa kondisi ternaknya.

Sebagian pekerjaan tersebut dilakukan sendiri.

Waktu yang tersedia setelah dinas pun harus dibagi dengan baik.

Bagi Fawwaz, peternakan bukan sekadar kegiatan sambilan untuk mengisi waktu luang. Ia menganggapnya sebagai cara untuk menyiapkan masa depan.

Menabung dalam bentuk sapi

Fawwaz tidak mengejar hasil secara instan.

Ia memilih mengembangkan usaha sedikit demi sedikit.

Gaji disisihkan. Keuntungan diputar kembali. Jumlah ternak bertambah.

Dari satu ekor sapi pada 2025, kini menjadi delapan ekor.

Bagi peternakan yang memiliki puluhan atau ratusan sapi, jumlah itu mungkin belum seberapa.

Namun bagi Fawwaz, delapan sapi tersebut bukan sekadar angka.

Ada proses di baliknya.

Ada waktu setelah dinas yang digunakan untuk mencari pakan. Ada pekerjaan fisik yang harus dilakukan sendiri. Ada pula keberanian memulai meski sempat diremehkan.

Di usia 23 tahun, Fawwaz memilih menyisihkan sebagian penghasilannya untuk sesuatu yang menurutnya bisa berkembang.

Dua pekerjaan setelah satu hari yang sama

Pagi hingga sore, Fawwaz menjalankan tugas sebagai anggota Polri.

Sore hingga malam, ia mengurus sapi. Dua pekerjaan itu memang berbeda. Namun, keduanya membutuhkan hal yang sama: kedisiplinan dan tanggung jawab.

Ketika tugas kedinasannya selesai, Fawwaz tidak langsung menutup hari.

Ia menuju kandang.

Di sana, delapan ekor sapi menunggu pakan dan perawatan.

Satu ekor sapi yang dibelinya pada pertengahan 2025 telah berkembang menjadi delapan.

Fawwaz belum berhenti.

Baginya, peternakan itu masih sebuah proses yang panjang.

Ia tidak sedang mengejar bagaimana kandangnya terlihat besar dalam waktu singkat.

Ia hanya ingin memastikan apa yang sudah dimulai tetap berjalan dan terus berkembang.

Dari satu ekor sapi, lalu dua, hingga kini delapan. Sederhana, tetapi konsisten. Dan setiap sore, setelah seragam Polri dilepas, perjalanan itu kembali dimulai dari kandang.