Laporan: Fera Marita
KABUPATEN SEMARANG, HARIAN7.COM-Pembangunan jalan rabat beton di wilayah Desa Cukil Kec. Tengaran Kab. Semarang menyisakan berbagai cerita unik. Salah satunya adalah keberadaan sebuah batu yang terletak di pertigaan jalan Dusun Gompyong Desa Cukil.
Sebagai lokasi pelaksanaan program TMMD reguler ke 129 Kodim 0714/Salatiga, keberadaan batu ditengah-tengah jalan tentu tak luput dari pengamatan Satgas TMMD. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Watu Lumpang. Menurut kepercayaan warga, batu tersebut merupakan batu peninggalan sejarah era mataram kuno.
Pada era kerajaan Medang ( mataram kuno ) batu lumpang yang merupakan batu benbentuk bejana digunakan sebagai alat menumbuk atau meramu bahan seperti padi, kopu,bumbu hingga obat-obatan tradisional. Tak jarang juga batu lumpang digunakan sebagai tempat persembahan.
Terbuat dari batu andesit, Watu Lumpang di Dusun Gompyong merupakan batu lumpang dengan posisi terbalik. Namun posisi tersebut sudah ada sejak jaman leluhur desa.
Bagi warga Gompyong, batu tersebut bukan sekedar batu biasa. Ada sebuah mitos seputar Watu Lumpang yang masih dipercaya warga hingga saat ini
“Batu ini sudah ada sejak jaman dulu. Warga sini percaya kalau ada yang duduk diatasnya maka orang itu bakal kena nasib sial. Jika Watu Lumpang ini dibalik maka maka warga Gompyong hidupnya akan rugi, usaha apapun akan rugi. Jadi boros, punya uang berapapun pasti langsung habis, istilahnya nggak cemantel,” ungkap Suwondo Kardi, sesepuh Dusun Gompyong.
Belum ada catatan sejarah yang valid terkait keberadaan Watu Lumpang di Dusun Gompyong tersebut. Namun jika dikaitkan dengan situs petirtaan kuno Senjoyo dan Candi Klero yang berdekatan dengan Dusun Gompyong, ada kemungkinan Watu Lumpang masih 1 era dengan kedua situs tersebut, yakni era mataram kuno. Tetapi tidak menutup kemungkinan jika Watu Lumpang tersebut ada di era sesudah runtuhnya kerajaan Medang.(*)









Tinggalkan Balasan