Laporan: Muhamad Nuraeni
KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Semarang berlangsung dengan cara berbeda. Jika biasanya upacara digelar di lapangan, kali ini pengibaran bendera Merah Putih dilakukan di tengah Danau Rawapening.
Upacara yang berlangsung di lingkungan Dusun Sumurup, Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Senin (17/8/2026), digelar di atas perahu dengan latar hamparan air danau. Kegiatan tersebut diinisiasi Lembaga Kesenian Kabupaten (LKK) Semarang dan melibatkan para seniman, pamong budaya, tokoh lintas agama, warga, hingga pelajar.
Tak sekadar menjadi seremoni kemerdekaan, upacara di atas air itu membawa pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, budaya, dan alam.
Ketua LKK Semarang Rama Pujianto mengatakan, Rawapening dipilih sebagai lokasi karena danau tersebut memiliki makna penting sebagai sumber kehidupan.
“Air merupakan sumber kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan. Dalam konteks ini, ingatan terhadap kelestarian Danau Rawapening sebagai sumber kehidupan jangan sampai hilang,” ujar Rama.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga melakukan pelepasan bibit ikan endemik Rawapening sebagai simbol kepedulian terhadap keberlangsungan ekosistem danau.
Menurut Rama, upaya menjaga alam tidak cukup hanya dengan mengambil manfaat, tetapi juga harus diimbangi dengan memberi kembali kepada lingkungan.
“Sederhananya, kalau orang lain mengambil dari Rawapening, maka kami harus memberi,” katanya.
Rangkaian acara juga diisi doa bersama lintas agama yang melibatkan pemuka Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, serta perwakilan penghayat kepercayaan. Doa tidak hanya ditujukan untuk keselamatan bangsa, tetapi juga untuk masyarakat yang terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sementara itu, seniman sekaligus penari Tegar Surya Utama menampilkan tarian yang menggambarkan keseimbangan kehidupan. Tarian tersebut mengangkat filosofi “Hamemayu Hayuning Bawono”, yakni menjaga keharmonisan dunia dengan merawat alam dan lingkungan.
“Tarian ini menggambarkan bahwa kemerdekaan sejati dapat dicapai jika dirawat melalui tiga pilar, yaitu harmoni dengan Tuhan, manusia dengan budaya, dan manusia dengan alam,” jelas Tegar.
Harmoni dengan Tuhan diwujudkan melalui doa lintas iman, hubungan manusia dengan budaya ditampilkan lewat seni tari kontemporer, sedangkan hubungan dengan alam diwujudkan melalui pelepasan bibit ikan di Danau Rawapening.
Melalui upacara unik di atas perahu tersebut, para seniman berharap semangat kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat untuk menjaga warisan alam bagi generasi mendatang.









Tinggalkan Balasan