Laporan: Fera Marita

KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Kerenyahan menjadi nyawa bagi sebuah produk keripik. Tekstur kres-kres saat digigit sering menjadi penentu apakah sebuah camilan mampu bertahan dan diminati konsumen.

Hal itu pula yang menjadi perhatian Parjo, warga Dusun Cukil, Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, dalam menjalankan usaha keripik cakar ayam miliknya.

Di balik renyahnya keripik ceker yang diproduksi secara rumahan tersebut, ada teknik khusus yang tidak boleh diabaikan. Salah satunya pemilihan minyak goreng.

Parjo pun membagikan rahasia sederhana itu saat mendapat kunjungan dari personel Satgas TMMD Reguler ke-129 Kodim 0714/Salatiga, Serka Wayan, yang datang untuk memberikan pendampingan terhadap pelaku usaha kecil di wilayah Desa Cukil.

“Syaratnya minyak harus banyak, baru, dan panas,” ujar Parjo.

Menurut dia, penggunaan minyak dalam jumlah cukup sangat penting agar seluruh bagian cakar ayam dapat terendam sempurna. Jika minyak terlalu sedikit, proses penggorengan tidak akan merata sehingga hasil keripik kurang maksimal.

Selain jumlah minyak, kualitas minyak juga menjadi faktor penting. Parjo menyebut penggunaan minyak jelantah dapat membuat warna keripik menjadi kusam dan kurang menarik.

“Setiap menggoreng kita selalu pakai minyak baru. Sedangkan jelantahnya kita tampung, nanti ada yang mengambil,” katanya.

Namun, bukan hanya minyak baru yang menjadi kunci. Suhu minyak saat proses penggorengan juga harus benar-benar diperhatikan.

Minyak yang kurang panas membuat keripik tidak matang sempurna atau dalam istilah Parjo disebut “mbeling”. Sebaliknya, minyak yang terlalu panas justru bisa membuat bagian luar cepat gosong sementara bagian dalam belum matang.

“Suhu minyak harus sangat diperhatikan. Setelah menggoreng, kita tidak langsung memasukkan cakar lagi. Tunggu beberapa saat sampai minyak kembali panas, baru dimasukkan lagi,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kestabilan api kompor selama proses produksi.

“Api jangan terlalu besar, tapi jangan terlalu kecil juga. Yang sedang-sedang saja,” ungkap Parjo.

Usaha keripik cakar ayam milik Parjo menjadi salah satu contoh usaha mikro yang terus berkembang di tengah program TMMD Reguler ke-129 Kodim 0714/Salatiga. Melalui pendampingan tersebut, pelaku usaha kecil diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas pemasaran.