Laporan: Lukman | Editor: Shodiq

KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Prosesi pelantikan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di Ungaran Barat berlangsung bukan sekadar pergantian struktur organisasi. Di balik ikrar baiat yang diucapkan, tersimpan pesan tentang amanah, pengabdian, dan tanggung jawab menjaga keberlanjutan khidmah kepada masyarakat.

Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Ungaran Barat bersama Pengurus Ranting (PR) NU se-Ungaran Barat resmi dilantik untuk masa khidmat 2026-2031 dalam kegiatan yang digelar di Aula Gedung PCNU Kabupaten Semarang, Jalan Kaligarang Nomor 9 Ungaran, Minggu (23/8/2026).

Acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB tersebut diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Subhanul Wathan, serta pembacaan tahlil.

Suasana khidmat terasa saat prosesi pelantikan berlangsung. Lantunan shalawat Ya Nabi mengiringi pengambilan baiat, membuat rangkaian acara semakin syahdu dan penuh makna.

Puncak kegiatan ditandai dengan pelantikan Pengurus MWC NU Ungaran Barat pada pukul 09.15 WIB, kemudian dilanjutkan pelantikan Pengurus Ranting NU se-Ungaran Barat pada pukul 09.45 WIB.

Ketua MWC NU Ungaran Barat, Joko Sriyono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa nilai khidmah kepada NU tidak hanya melekat pada mereka yang memiliki jabatan struktural.

“Berkhidmah itu tidak harus menjadi pengurus. Semua orang yang mau ngurus NU akan dianggap menjadi santrinya Mbah Hasyim,” ujar Joko.

Menurutnya, kekuatan NU tidak hanya berada pada kepengurusan formal, tetapi juga pada keterlibatan warga yang ikut merawat organisasi dan memperjuangkan nilai-nilai keislaman serta kemasyarakatan.

Sementara itu, Sekretaris PCNU Kabupaten Semarang H. Abdul Kholiq mengingatkan para pengurus yang baru dilantik agar menjalankan amanah organisasi dengan penuh keikhlasan, kesungguhan, dan ketaatan terhadap aturan organisasi.

Ia menegaskan, kepengurusan NU bukan hanya simbol jabatan, tetapi tanggung jawab untuk memberikan pelayanan terbaik kepada umat.

Wakil Bupati Semarang Hj. Arifah juga menekankan makna penting dari prosesi baiat yang dilakukan para pengurus.

“Baiat bukan sekadar seremonial pelantikan, melainkan ikrar di hadapan Allah SWT dan jam’iyyah untuk menjalankan roda organisasi dengan istikamah,” kata Arifah.

Ia meminta seluruh pengurus NU, baik tingkat MWC maupun ranting, mampu menjaga amanah, melayani umat, serta mempertahankan marwah organisasi

Menurut Arifah, keseriusan dalam ber-NU harus terlihat melalui tindakan nyata, seperti keaktifan pengurus, kedisiplinan dalam menjalankan tugas, serta mengedepankan akhlak dalam setiap program kerja.

“Penguatan khidmah dengan keseriusan dalam ber-NU dibuktikan dengan keaktifan, kedisiplinan, serta mengutamakan akhlak dalam menjalankan program kerja,” ujarnya.

Selain prosesi pelantikan dan sambutan, kegiatan tersebut juga diisi dengan Mauidzoh Hasanah dan doa bersama, kemudian ditutup dengan ramah tamah.

Melalui kepengurusan baru masa khidmat 2026-2031 ini, MWC NU Ungaran Barat berharap konsolidasi organisasi semakin kuat. Para pengurus diharapkan mampu meningkatkan peran NU dalam bidang keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan di wilayah Ungaran Barat selama lima tahun ke depan.

Bagi NU, pelantikan bukan akhir dari sebuah proses, melainkan awal perjalanan panjang untuk membuktikan komitmen pengabdian kepada umat.