Laporan: Muhamad Nuraeni
BOYOLALI | HARIAN7.COM – Bukan sekadar lomba lari, Merapi Merbabu De Trail 2026 menjadi ajang adu ketahanan fisik sekaligus perjalanan menaklukkan keindahan alam pegunungan Selo, Boyolali.
Sebanyak 1.050 pelari dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara ambil bagian dalam event trail running yang digelar untuk ketiga kalinya oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Boyolali, Minggu (2/8/2026).
Yang menarik, ajang ini berhasil menarik perhatian pelari dari 14 negara. Mereka datang bukan hanya untuk mengejar podium, tetapi juga merasakan sensasi berlari di jalur alam yang membentang di kawasan Gunung Merapi dan Merbabu.
Kepala Bidang Kepemudaan Disporapar Kabupaten Boyolali, Rima Kusuma mengatakan, Merapi Merbabu De Trail dirancang sebagai perpaduan olahraga dan wisata atau sport tourism.
“Ini tahun ketiga kami menggelar Merapi Merbabu De Trail. Peserta datang dari berbagai daerah seperti Bandung, Jakarta, Banjarnegara, Salatiga, Banyumas, Cilacap hingga Medan. Selain itu ada 14 negara yang ikut ambil bagian,” ujar Rima.
Menurutnya, peserta harus menghadapi tantangan berbeda dibanding lomba lari biasa. Para pelari tidak hanya berhadapan dengan jarak tempuh, tetapi juga medan pegunungan berupa jalan setapak, tanjakan, serta turunan yang menguras tenaga.
Tahun ini panitia menyediakan tiga kategori perlombaan, yakni jarak 5 kilometer, 15 kilometer, dan 30 kilometer.
“Konsepnya adalah menyusuri jalur alam pegunungan yang menantang. Selain kompetisi, kami ingin mengenalkan keindahan wisata Merapi dan Merbabu kepada para pelari,” katanya.
Dominasi peserta internasional juga terlihat dari hasil perlombaan. Pelari asal Spanyol, Paula Lopez Forez, berhasil meraih juara pertama kategori 5 kilometer dan 30 kilometer putri.
Paula mengaku terkesan dengan pengalaman berlari di kawasan Merapi Merbabu. Meski rutenya berat, pemandangan alam menjadi motivasi tersendiri untuk menyelesaikan lomba.
“Saya dari Spanyol dan hari ini mengikuti race 30 kilometer dan 5 kilometer. Merapi Merbabu race sangat luar biasa, memiliki banyak pemandangan indah, tetapi juga sangat sulit. Saya menikmati tempat ini dan ingin kembali lagi,” kata Paula.
Sementara itu, bagi pelari lokal, tantangan Merapi Merbabu De Trail menjadi pembuktian kemampuan menghadapi medan ekstrem.
Salah satunya Aisyah Nur Rahmah, pelari asal Kota Magelang yang turun di kategori 15 kilometer. Ia berhasil finis di posisi ketiga dengan catatan waktu 3 jam 47 menit 28 detik.
Aisyah mengatakan, jalur yang harus dilewati cukup menguras tenaga, terutama saat menuju kawasan puncak.
“Track-nya dari basecamp Selo menuju puncak dan turun lagi. Menurut saya bagian paling berat dari pos tiga menuju puncak,” ujarnya.
Bagi Aisyah, Merapi Merbabu De Trail bukan sekadar perlombaan. Ia sudah mengikuti event ini sejak tahun pertama dan merasakan perubahan rute yang membuat tantangan semakin menarik.
“Ini tahun ketiga saya ikut. Antusias teman-teman luar biasa dan saya menikmati rutenya. Tahun ini waktu saya juga lebih baik dibanding sebelumnya,” ucapnya.
Dengan semakin banyaknya peserta internasional, Disporapar Boyolali menargetkan Merapi Merbabu De Trail berkembang menjadi event trail berskala lebih besar.
“Tahun depan kami berharap bisa menghadirkan lebih banyak peserta mancanegara. Kalau tahun ini 14 negara, target kami bisa mencapai 20 negara,” kata Rima.
Merapi Merbabu De Trail 2026 pun membuktikan bahwa jalur pegunungan Selo bukan hanya medan berat bagi pelari, tetapi juga panggung olahraga yang mampu memperkenalkan pesona alam Boyolali ke dunia.(*)









Tinggalkan Balasan