SRAGEN|HARIAN7.COM – Bertahun-tahun menjadi langganan genangan saat musim hujan, sekitar 120 hektare lahan persawahan di Desa Jono dan Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Sragen, kini mendapat harapan baru.

Saluran pengendali banjir yang menjadi jalur pembuangan air menuju Sungai Bengawan Solo telah selesai dibangun. Infrastruktur berupa normalisasi saluran, talud, gorong-gorong, hingga pintu air tersebut diharapkan mampu mengakhiri cerita lama sawah yang kerap berubah menjadi “kolam dadakan” ketika hujan datang.

Bupati Sragen Sigit Pamungkas meninjau langsung hasil pembangunan tersebut pada Rabu (5/8/2026). Ia mengatakan, persoalan banjir selama ini terjadi karena aliran air dari kawasan persawahan tidak mampu mengalir maksimal menuju Bengawan Solo.

“Alhamdulillah saluran air ini sudah selesai dibangun. Kami berharap masyarakat dapat menjaga dan memanfaatkan bangunan ini sesuai fungsinya agar persoalan banjir yang selama ini terjadi tidak terulang kembali,” ujar Sigit.

Penanganan banjir dilakukan melalui normalisasi saluran di wilayah Gawan sepanjang 785,47 meter dan saluran Gentan Banaran sepanjang 1.106,34 meter. Total panjang saluran yang ditangani mencapai hampir 1,9 kilometer.

Selain normalisasi, pekerjaan juga mencakup pengerukan sedimen lebih dari 747 meter kubik, pembangunan talud pasangan batu sepanjang 20 meter, satu unit gorong-gorong, dua pintu air pengendali banjir, serta pekerjaan timbunan kembali.

Saluran Dibangun, Malah Ditanami Padi

Namun, di balik kabar baik tersebut, Bupati menemukan persoalan klasik. Sejumlah bagian saluran yang seharusnya menjadi jalur air justru masih dimanfaatkan untuk menanam padi.

Sigit pun mengingatkan warga agar tidak mengubah fungsi saluran yang sudah dibangun.

“Kami mohon dengan hormat kepada masyarakat agar menggunakan bangunan ini sesuai fungsinya. Jika saluran air ini ditanami lagi, saluran bisa kembali menyempit bahkan hilang, sehingga air tidak mengalir dengan baik dan banjir berpotensi terjadi lagi,” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur pengendali banjir tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat dalam menjaga fasilitas tersebut.

“ Mari kita jaga bersama agar pembangunan ini benar-benar memberi manfaat bagi banyak orang,” katanya.

Bukan Sekadar Bangun Saluran

Pemerintah Kabupaten Sragen memastikan peningkatan infrastruktur pengendali banjir di kawasan tersebut masih akan dilakukan secara bertahap.

Harapannya, saluran yang kini sudah kembali berfungsi tidak hanya menjadi proyek fisik, tetapi benar-benar menjadi solusi bagi petani yang selama bertahun-tahun harus berhadapan dengan ancaman sawah terendam.

Sebab, membangun saluran air mungkin membutuhkan anggaran, tetapi menjaga agar saluran tetap berfungsi membutuhkan kesadaran bersama. Jika tidak, banjir bisa kembali datang membawa cerita lama.(Tof)