Laporan: Muhamad Nuraeni
JAKARTA | HARIAN7.COM – Kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri masih menjadi tantangan dalam penyiapan tenaga kerja Indonesia. Untuk menjawab persoalan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri melalui Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker).
Kerja sama itu tidak hanya menyentuh aspek pembelajaran di kelas, tetapi juga membuka akses mahasiswa terhadap pengalaman industri secara langsung, mulai dari penyelarasan kurikulum, kuliah umum, seminar, kunjungan industri, hingga penyediaan sarana praktik.
Direktur Polteknaker Cris Kuntadi mengatakan kolaborasi dengan dunia industri menjadi langkah strategis untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.
Menurut dia, kerja sama tersebut dibangun melalui tiga pilar utama. Pertama, penguatan pendidikan dan pembelajaran melalui penyelarasan kurikulum serta keterlibatan industri dalam proses akademik. Kedua, peningkatan kompetensi sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan, termasuk program Training to Trainer dari ICT Academy yang memungkinkan dosen memperbarui kemampuan teknologi terkini.
“Dosen yang memperoleh pelatihan nantinya dapat mentransfer pengetahuan dan keterampilan terbaru kepada mahasiswa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kebutuhan industri,” ujar Cris.
Pilar ketiga adalah pemberdayaan SDM melalui penyediaan kesempatan magang, akses informasi lowongan kerja, hingga pelaksanaan campus hiring yang mempertemukan talenta muda dengan perusahaan pencari tenaga kerja.
Cris menjelaskan, manfaat kerja sama tersebut akan dirasakan seluruh program studi di Polteknaker. Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) akan memperoleh wawasan mengenai penerapan keselamatan kerja berbasis teknologi digital. Mahasiswa Relasi Industri mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai hubungan industrial modern, sementara mahasiswa Manajemen SDM dapat mempelajari praktik pengelolaan talenta yang diterapkan perusahaan kelas dunia.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, menurut Cris, pembangunan sumber daya manusia harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang menentukan daya saing bangsa.
“Kami tidak sekadar menyiapkan tenaga kerja, tetapi menyiapkan manusia agar dapat bekerja dengan bermartabat, aman, dan memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang. Kami melihat mitra kami memiliki komitmen yang sama, yaitu berinvestasi pada manusia dan memberdayakan talenta,” katanya.
Melalui kolaborasi tersebut, Kemnaker berharap lulusan Polteknaker tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan industri masa depan.(*)









Tinggalkan Balasan