Laporan: Tambah Santoso
KUDUS | HARIAN7.COM – Aliansi Mahasiswa Bergerak (AMB) bersama sejumlah organisasi kemahasiswaan di Kabupaten Kudus menegaskan komitmennya untuk mengawal ketat hasil dialog dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, Jawa Tengah.
Fokus pengawalan dalam dua bulan ke depan akan diarahkan pada pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan KDMP, guna memastikan janji evaluasi dari pemerintah daerah benar-benar terealisasi.
Ketua BEM Universitas Muria Kudus (UMK), Nur Rahmah Tanaya, menegaskan bahwa mahasiswa tidak ingin aspirasi yang telah disampaikan menguap begitu saja setelah forum diskusi usai.
“Kami akan terus mengawal kesepakatan yang sudah disampaikan. Dalam dua bulan ke depan kami ingin melihat apakah ada hasil nyata dari evaluasi dan kebijakan yang dijanjikan pemerintah,” ujar Nur Rahmah pada Jumat (19/6/2026) sore.
Selain menuntut perbaikan tata kelola, mahasiswa menyayangkan ketidakhadiran Wakil Bupati Kudus, Belinda Putri Sabrina Birton, dalam dialog terbuka yang berlangsung hingga malam tersebut. Kehadiran Wabup dinilai krusial mengingat posisinya sebagai wakil kepala daerah sekaligus Ketua Satgas SPPJK Kabupaten Kudus.
Dalam dialog tersebut, AMB mengkritisi pelaksanaan program MBG yang dinilai terburu-buru tanpa persiapan matang. Persoalan transparansi anggaran, kualitas di lapangan, hingga kasus keracunan makanan yang sempat terjadi di Kudus menjadi sorotan tajam.
“Kalau sistemnya tidak matang, dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Kasus keracunan yang terjadi menjadi bukti bahwa program ini perlu evaluasi menyeluruh dan langkah mitigasi yang jelas,” tegas Nur Rahmah.
Tidak hanya soal kebijakan publik, mahasiswa juga menumpahkan kekecewaannya terhadap minimnya dukungan Pemkab Kudus terhadap kegiatan pengabdian masyarakat, riset, dan aksi sosial yang selama ini diinisiasi oleh mahasiswa untuk pembangunan daerah.
Ketegangan juga dipicu oleh unggahan media sosial anggota Komisi C DPRD Kudus dari Fraksi PAN, Rohim Sutopo. Mahasiswa menilai unggahan tersebut merendahkan martabat mereka karena menyebut mahasiswa hanya pandai berbicara, mengkritik, dan bergantung pada orang tua.
Bentuk Kerja Nyata Mahasiswa Kudus di Lapangan: Melakukan riset dan inovasi daerah, Pendampingan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat dan Aksi sosial dan pelestarian lingkungan (seperti pembersihan Kali Gelis).
“Kami menunggu klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka. Mahasiswa telah menunjukkan kerja nyata di lapangan, bukan sekadar omongan,” tambah Nur Rahmah.
Aksi dialog terbuka yang diikuti oleh lebih dari 300 mahasiswa dari AMB UMK, HMI Cabang Kudus, dan GMNI Cabang Kudus ini berlangsung tertib dan berakhir damai.
Menanggapi tuntutan tersebut, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan apresiasinya atas jalannya aksi yang kondusif. Ia berjanji akan membawa seluruh aspirasi tersebut ke ranah Forkopimda.
“Kami mengapresiasi penyampaian aspirasi yang berjalan tertib dan konstruktif. Semua masukan akan kami evaluasi bersama Forkopimda,” kata Sam’ani.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Kudus berjanji akan segera melayangkan surat resmi ke pemerintah pusat agar aspirasi para mahasiswa Kudus dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan kebijakan nasional.
“Dalam waktu dekat kami akan menyampaikan aspirasi yang berkembang melalui surat resmi kepada pemerintah pusat agar menjadi perhatian bersama,” pungkasnya.









Tinggalkan Balasan