Laporan: Tambah Santoso

KUDUS | HARIAN7.COM – Beragam makanan dan minuman khas tempo dulu menjadi daya tarik utama dalam Pasar Kuliner Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus 1448 H. Gelaran yang berpusat di kawasan Alun-alun Kulon Kudus atau Taman Menara Kudus ini sukses menyedot perhatian masyarakat yang rindu akan kuliner tradisional.

Kegiatan yang berlangsung selama rangkaian tradisi Buka Luwur tersebut menghadirkan puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Mereka menjajakan aneka kuliner tradisional yang kini sudah mulai jarang ditemui di pasaran.

Pantauan di lokasi, para pengunjung dapat menemukan berbagai jajanan autentik ber cita rasa lawas, di antaranya: Intip Ketan dan Aneka Olahan Getuk, Roti Maryam dan Es Tung-tung serta Pecel hingga Nasi Godong Jangkrik yang menjadi ikon kuliner khas Menara.

Pasar kuliner ini menjadi salah satu agenda yang paling ramai dikunjungi. Selain menghadirkan suasana nostalgia bagi generasi tua, acara ini sekaligus menjadi media edukasi untuk mengenalkan kembali kekayaan kuliner lokal kepada generasi muda.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kudus, Eko Djumartono, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan hasil sinergi yang apik antara Yayasan Menara Makam Sunan Kudus (YM3SK) dengan Pemerintah Kabupaten Kudus.

“Kegiatan ini diselenggarakan oleh teman-teman Yayasan Menara Makam Sunan Kudus yang bersinergi dengan pemerintah. Kami mendukung berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian tradisi dan pengembangan ekonomi masyarakat,” ujar Eko usai pembukaan acara pada Selasa sore, 16 Juni 2026.

Eko menambahkan, dukungan Pemkab Kudus tidak hanya berhenti pada ceremonial atau penyelenggaraan acara saja. Ke depan, fokus pemerintah adalah menata kawasan religi Menara Kudus agar semakin aman dan nyaman bagi wisatawan maupun masyarakat lokal.

“Kami bersama yayasan terus memformulasikan yang terbaik. Pedestrian harus nyaman, pengunjung nyaman, dan aktivitas ekonomi masyarakat juga bisa tumbuh tanpa mengganggu keselamatan pengguna jalan,” jelasnya.

Saat ini, Pemkab Kudus bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pihak yayasan sedang melakukan kajian mendalam terkait penataan kawasan. Tujuannya agar wisata religi di Kudus bisa naik kelas.

“Harapan kami kawasan Sunan Kudus dan Sunan Muria bisa naik kelas. Orang yang datang ke Kudus merasa nyaman, bahkan bisa menginap lebih lama sehingga memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” imbuh Sekda.

Sementara itu, Pengurus Yayasan Menara Makam Sunan Kudus (YM3SK), Muchammad Fatchan, menjelaskan bahwa Pasar Jadul ini melibatkan sekitar 30 pelaku UMKM yang mayoritas merupakan warga di sekitar kawasan penyangga Menara Kudus.

Menurut Fatchan, konsep tempo dulu sengaja dipilih demi menyelamatkan warisan kuliner yang mulai ditinggalkan oleh generasi masa kini.

“Tujuannya mengenalkan kembali makanan-makanan lama yang pembuatannya sehat dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Kudus. Sekarang banyak anak muda yang sudah tidak mengenal makanan-makanan seperti ini,” ungkap Fatchan.

Lebih dari sekadar tempat transaksi jual-beli, Pasar Jadul ini juga menjadi refleksi nyata dari ajaran luhur Kanjeng Sunan Kudus, yaitu filosofi Gusjigang (Bagus perilakunya, pintar Ngaji, dan pandai Berdagang).

“Pasar jadul ini menjadi bagian dari upaya melestarikan nilai Gusjigang, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui kuliner tradisional yang menjadi identitas asli Kudus,” pungkasnya.