Laporan: Muhamad Nuraeni
KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Tumpukan sisa makanan dari dapur asrama dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat menjadi persoalan yang harus dihadapi MTsN 1 Kabupaten Semarang. Namun, limbah organik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini justru diubah menjadi sumber ekonomi melalui budidaya maggot.
Madrasah yang berada di jalur Sruwen-Karanggede, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang itu memiliki kompleks boarding school yang setiap hari menghasilkan sampah organik dalam jumlah cukup besar. Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah mencari solusi agar limbah tidak hanya menjadi beban lingkungan.
Kepala MTsN 1 Kabupaten Semarang, Muh Muslimin, mengatakan pengelolaan sampah organik menjadi salah satu tantangan yang harus diatasi seiring meningkatnya aktivitas di lingkungan sekolah.
Menurut dia, sampah tidak semata dipandang sebagai persoalan kebersihan, melainkan dapat menjadi sarana pendidikan sekaligus bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
“Saat ini kami berusaha mengolah sampah itu agar lebih bermanfaat, sekaligus membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan manifestasi dari iman, sebuah gerakan konkret bernama Ecotheology,” kata Muslimin, Sabtu (30/5).
Dari gagasan tersebut, sekolah mulai memanfaatkan sampah organik yang berasal dari dapur asrama dan sisa konsumsi MBG sebagai pakan larva Black Soldier Fly (BSF) atau yang lebih dikenal sebagai maggot.
Larva tersebut memiliki kemampuan mengurai limbah organik dengan cepat. Dalam beberapa hari, sampah yang sebelumnya menumpuk dapat berkurang drastis dan berubah menjadi biomassa yang memiliki nilai manfaat.
Muslimin menjelaskan, program budidaya maggot awalnya lahir dari kegiatan penelitian siswa yang dipersiapkan untuk mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
Namun, hasil penelitian itu berkembang lebih jauh hingga menjadi unit produksi yang berjalan secara berkelanjutan.
“Setiap harinya, sampah organik yang berasal dari dapur boarding school dan sisa konsumsi makanan MBG tidak berakhir di TPA, melainkan menjadi bahan pakan utama bagi larva maggot. Dengan kemampuan mengurai sampah organik hingga beberapa kali lipat berat tubuhnya dalam hitungan hari, maggot-maggot ini menjadi mesin daur ulang alami yang sangat efisien,” ujarnya.
Saat ini, MTsN 1 Kabupaten Semarang secara rutin menghasilkan dua jenis produk maggot, yakni maggot basah yang digunakan sebagai pakan langsung untuk ikan dan ternak, serta maggot kering yang memiliki daya simpan lebih lama dan nilai jual lebih tinggi.
Selain bertujuan mengurangi sampah, program tersebut juga menjadi bagian dari pendidikan karakter siswa. Mereka dilibatkan dalam proses pengelolaan limbah sehingga memahami pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.
Muslimin menegaskan bahwa seluruh kegiatan tersebut merupakan implementasi nyata budaya hidup ramah lingkungan yang selama ini dibangun di madrasah.
“Kami ingin siswa paham bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah. Status Madrasah Adiwiyata yang kami sandang bukan sekadar plakat di dinding, tapi budaya hidup. Kami juga meluncurkan podcast sebagai syiar digital untuk menyebarluaskan virus kebaikan lingkungan ini ke sekolah-sekolah lain,” katanya.
Upaya yang dilakukan MTsN 1 Kabupaten Semarang mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, H. Ta’yinul Birri.
Ia menilai program tersebut menjadi contoh konkret penerapan konsep ecotheology yang tengah didorong Kementerian Agama melalui berbagai satuan pendidikan.
“Ini adalah implementasi nyata dari program prioritas Kemenag mengenai ecotheology. Madrasah ini berhasil mengintegrasikan kesalehan ritual. Anak-anak madrasah kita sudah punya jawabannya, mengubah tinja jadi gas, plastik jadi bensin, dan sampah jadi rupiah,” ujar Ta’yinul.
Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah, langkah yang dilakukan MTsN 1 Kabupaten Semarang menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Melalui budidaya maggot, sisa makanan yang sebelumnya dianggap tak bernilai kini berubah menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi.(*)









Tinggalkan Balasan