DEPOK | HARIAN7.COM – Komando Distrik Militer (Kodim) 0508/Depok memaknai Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah bukan sekadar sebagai momentum ritual penyembelihan hewan, melainkan sebagai sarana strategis untuk memperkuat nilai keikhlasan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi di tengah kehidupan masyarakat modern yang cenderung individualistis.

Hal tersebut disampaikan Komandan Kodim (Dandim) 0508/Depok, Kolonel Infanteri Ginanjar Wahyutomo, saat memimpin pemotongan hewan kurban di Markas Kodim (Makodim) 0508/Depok, Jalan Mampang, Pancoran Mas, Depok, Kamis (28/5/2026).

Pada perayaan tahun ini, Kodim 0508/Depok menyembelih total enam ekor sapi dan delapan ekor kambing. Proses pemotongan dipusatkan di Makodim pada hari kedua Idul Adha, setelah sebelumnya jajaran Koramil melaksanakan kegiatan serupa di wilayah binaan masing-masing pada hari pertama.

“Hari pertama para Danramil dan Babinsa sudah melaksanakan kegiatan di wilayah masing-masing. Kegiatan di tingkat Kodim kami pusatkan hari ini agar seluruh personel dapat maksimal menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat secara terkoordinasi,” ujar Ginanjar dalam keterangannya.

Distribusi Merata untuk Warga Terdampak

Ginanjar menjelaskan bahwa seluruh daging kurban didistribusikan kepada masyarakat yang berhak menerima. Penerima manfaat meliputi anak yatim, fakir miskin, warga sekitar Makodim, hingga personel dan petugas yang terlibat dalam proses penyembelihan.

Menurutnya, esensi utama kurban tidak terletak pada besar atau kecilnya hewan yang disembelih, melainkan pada ketulusan hati dalam berbagi serta kepedulian terhadap sesama manusia.

“Kita diajarkan untuk ikhlas terhadap apa yang kita miliki dan mau berbagi. Melalui hikmah kurban ini, semoga tumbuh jiwa saling mengasihi antarwarga,” katanya.

Melawan Sikap Individualisme

Lebih lanjut, Dandim Ginanjar menilai nilai-nilai Idul Adha sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang dihadapkan pada tantangan menurunnya kepedulian sosial dan meningkatnya sikap individualisme.

Baginya, kurban menjadi pengingat bahwa setiap harta yang dimiliki sejatinya memiliki hak bagi orang lain yang membutuhkan. Di tengah kesibukan hidup modern, kebahagiaan sejati dinilai hadir bukan dari apa yang dimiliki, melainkan dari apa yang mampu dibagikan.

“Semangat rela melepas demi memberi adalah nilai penting yang perlu terus dihidupkan. Ini adalah antidot terhadap sikap individualisme yang kian menggerus hubungan sosial,” ujarnya.

Pererat Silaturahmi Tanpa Sekat

Selain sebagai bentuk ibadah, Ginanjar menekankan bahwa semangat berkurban mampu mempererat hubungan sosial tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun status sosial. Kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan berbagi dinilai dapat menciptakan harmoni di tengah masyarakat.

“Silaturahmi harus terus dijaga, baik bagi masyarakat yang memiliki kecukupan harta maupun yang masih membutuhkan perhatian. Dengan saling peduli, hubungan masyarakat bisa tetap harmonis dan kesejahteraan bersama dapat meningkat,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, Ginanjar berharap momentum Idul Adha tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang muhasabah (introspeksi) untuk memperkuat empati dan membangun kembali semangat gotong royong.

“Melalui semangat belajar melepas untuk memberi, nilai kurban diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa keikhlasan dan rasa saling mengasihi merupakan fondasi penting dalam menjaga persatuan dan kemanusiaan,” tutup Ginanjar.