Usai Cuti Lebaran, Desa Sraten Kembali Maksimalkan Pelayanan Publik
Laporan: Muhamad Nuraeni
KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Pagi di Desa Sraten, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, berjalan seperti biasa. Tak ada tanda-tanda “sisa libur panjang” yang kerap melekat di hari pertama kerja usai Idulfitri. Pintu balai desa sudah terbuka, aparatur berdatangan tepat waktu, dan pelayanan publik kembali bergulir tanpa jeda.
Di desa ini, disiplin bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari komitmen yang telah dibangun sejak lama. Desa Sraten dikenal sebagai salah satu desa dengan predikat Desa Antikorupsi terbaik dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2023, dengan capaian nilai nyaris sempurna: 98.
Penghargaan itu bukan sekadar simbol. Ia lahir dari proses panjang penerapan tata kelola pemerintahan desa yang transparan, akuntabel, dan berbasis digital. Tak kurang dari 18 indikator ketat menjadi tolok ukur, mulai dari sistem administrasi hingga budaya kerja aparatur.
Momentum hari pertama masuk kerja usai cuti Lebaran 2026 menjadi cerminan bagaimana nilai-nilai itu tetap dijaga. Tidak ada toleransi bagi kelonggaran disiplin.
Kepala Desa Sraten, Rokhmat SH, menegaskan bahwa masa libur telah usai dan kini saatnya kembali pada tugas utama sebagai pelayan masyarakat.
“Liburan sudah selesai. Sebagai aparat pelayan masyarakat, kita mulai lagi dengan penuh semangat,” ujarnya saat dihubungi harian7.com, Rabu (25/3/2026).
Bagi Rokhmat, semangat kerja pasca-Ramadan tidak sekadar soal produktivitas, tetapi juga soal menjaga integritas. Ia mengaitkan nilai ibadah selama bulan suci dengan etos pelayanan publik.
“Sesuai pesan Ramadan, kita harus menghindari perbuatan tercela dan yang dilarang agama. Jadikan pelayanan kepada masyarakat sebagai ladang mencari ridha Allah,” katanya.
Di Desa Sraten, integritas diterjemahkan dalam hal-hal sederhana namun konsisten: tidak korupsi, melayani dengan sepenuh hati, serta membangun interaksi yang humanis melalui budaya senyum, salam, dan sapa.
Prinsip-prinsip itu yang membuat Desa Sraten tak hanya unggul di atas kertas penilaian, tetapi juga dalam praktik sehari-hari. Ketika banyak tempat masih beradaptasi kembali dengan ritme kerja, desa ini justru menunjukkan bahwa pelayanan publik tak mengenal kata jeda.
Dari sebuah desa kecil di lereng perbukitan Tuntang, pesan itu mengalir jelas: membangun pemerintahan bersih bukan hanya tentang sistem, tetapi juga tentang kebiasaan yang dijaga, bahkan sejak hari pertama setelah libur panjang.(*)
























Tinggalkan Balasan