HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Hujan Deras Robohkan Jembatan Pledokan – Duren, Ratusan Warga Sumowono Terisolasi, Titian Bambu Jadi Andalan

KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Hujan yang turun tanpa jeda sejak Minggu sore, 23 Februari 2026, berujung pada runtuhnya jembatan penghubung Desa Pledokan dan Desa Duren, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Sekitar pukul 02.30 WIB, badan jembatan amblas setelah pondasinya terkikis arus sungai yang meluap.

Jembatan sepanjang kurang lebih 10 meter dengan lebar 4 meter itu selama ini menjadi akses utama warga menuju jalan penghubung dari pusat kecamatan. Ketika konstruksi runtuh sedalam sekitar 6 meter, jalur itu terputus total. Sekitar 800 jiwa terdampak karena aktivitas harian tersendat.

Baca Juga:  Rafting Milik BUMDes Sambirejo Telan Korban Jiwa, Satu Tewas Terhanyut di Aliran Sungai Tuntang

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan, menyebut intensitas hujan tinggi sebagai pemicu utama. “Curah hujan yang tinggi sampai malam hari, kemudian sekitar pukul 02.30 dini hari jembatan ambrol sehingga tidak bisa digunakan sebagai penghubung antara Desa Pledokan dan Desa Duren,” ujarnya saat dikonfirmasi di Ungaran, Senin, 23 Februari 2026.

Baca Juga:  BPN Depok Gandeng Media, Digitalisasi Layanan Tanah Digeber

Asesmen awal mencatat struktur jembatan tak lagi layak dilalui kendaraan. “Hasil asesmen sementara, jembatan yang ambrol memiliki panjang sekitar 10 meter, lebar 4 meter, dan kedalaman 6 meter. Kondisi tersebut membuat jembatan tidak dapat dilalui kendaraan,” kata dia.

Tak menunggu lama, BPBD bersama TNI, Polri, dan pemerintah kecamatan turun ke lokasi. Di tengah keterbatasan, warga memilih bergerak cepat. Bambu dan papan kayu disusun menjadi jembatan darurat—cukup untuk dilintasi sepeda motor dan pejalan kaki.

Baca Juga:  Danrem Ezra Bongkar Fakta Rekrutmen TNI AD: Transparan, Tanpa Calo!

“Untuk sementara sudah dibuat jembatan darurat yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, guna memperlancar aktivitas warga terutama anak-anak yang akan bersekolah,” ujar Alexander.

BPBD akan melakukan kajian lanjutan untuk menentukan penanganan permanen. Tanah yang relatif labil di kawasan Desa Duren disebut mempercepat proses pengikisan saat debit sungai meningkat tajam. Untuk sementara, titian bambu menjadi satu-satunya penghubung dua desa di lereng Sumowono itu.(AS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!