Laporan: Wahono
WONOSOBO | HARIAN7.COM – Ketika sebagian besar warga masih terlelap menjelang subuh, kepanikan justru menyelimuti sebuah rumah di Dusun Ngariman, Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Wonosobo.
Di balik rumah yang sengaja dibuat gelap gulita, seorang pria berinisial MF (31), yang mengalami gangguan kejiwaan, mengamuk tanpa kendali. Suara benturan dan benda-benda yang dilempar dari dalam rumah memecah kesunyian dini hari, membuat keluarga tak berani mendekat.
Situasi yang kian mencekam itu akhirnya dilaporkan sang adik, AMZ (29), melalui Call Center 110 Polres Wonosobo pada Selasa (2/6/2026) pukul 04.27 WIB.
Tak butuh waktu lama, laporan tersebut langsung diteruskan ke petugas lapangan. Personel PAMAPTA I bersama piket SPKT Polres Wonosobo dan Polsek Kertek segera meluncur ke lokasi.
Saat tiba, petugas dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah. Seluruh lampu rumah dalam keadaan mati, sementara dari dalam terdengar suara benda yang dilemparkan secara berulang.
Alih-alih menerobos masuk dan melakukan tindakan paksa, polisi memilih langkah yang lebih manusiawi. Mereka mencoba berkomunikasi dengan MF dari luar rumah, membangun ketenangan sedikit demi sedikit sambil memantau perkembangan situasi.
Pendekatan itu membuahkan hasil. Setelah kondisi pasien mulai mereda, petugas bersama tenaga medis dan perangkat desa akhirnya dapat masuk untuk melakukan pengamanan.
Demi menghindari risiko yang lebih besar, tenaga medis memberikan suntikan penenang sesuai prosedur sebelum proses evakuasi dilakukan.
MF kemudian dibawa menggunakan ambulans desa menuju Rumah Sakit Jiwa Magelang untuk mendapatkan perawatan dan penanganan medis lanjutan.
PAMAPTA I Polres Wonosobo, Ipda Dhaniz Nurrizki, mengatakan keselamatan pasien menjadi prioritas utama dalam operasi tersebut.
“Kami menerima laporan melalui Call Center 110 dan langsung menuju lokasi. Setibanya di sana, kami melakukan asesmen situasi terlebih dahulu karena kondisi pasien masih emosional. Kami berupaya menenangkan pasien secara persuasif dengan melibatkan keluarga, tenaga medis, dan perangkat wilayah setempat,” kata Dhaniz.
Respons cepat aparat mendapat apresiasi dari keluarga pasien. AMZ mengaku terkejut dengan kecepatan layanan darurat kepolisian yang langsung merespons laporannya pada dini hari.
“Respon dari 110 Polres Wonosobo sangat cepat, sangat tanggap, dan sangat aktif sekali. Saya telepon langsung diangkat dan petugas sangat responsif. Kami sekeluarga merasa sangat terbantu karena anggota Polri segera datang dan membantu menangani situasi sampai selesai,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi gambaran bagaimana penanganan ODGJ yang sedang mengalami krisis membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Berkat koordinasi antara keluarga, tenaga kesehatan, perangkat desa, dan kepolisian, situasi yang sempat menegangkan berhasil dikendalikan tanpa menimbulkan korban.
Polres Wonosobo pun mengingatkan masyarakat agar tidak ragu memanfaatkan layanan Call Center 110 yang beroperasi selama 24 jam ketika menghadapi situasi darurat yang membutuhkan kehadiran polisi secara cepat.









Tinggalkan Balasan