Guru Guneman #1: Saat Guru-Guru Salatiga “Curhat Buku” dan Sentil Rendahnya Minat Baca
Laporan: Muhamad Nuraeni
SALATIGA | HARIAN7.COM – Kalau biasanya guru sibuk menyuruh murid membaca, Jumat (27/2/2026) kemarin justru para gurunya yang “ketahuan” asyik pamer buku. Bertempat di , Komunitas Guru Suka Baca resmi menggelar meet up perdananya bertajuk “Guru Guneman #1”.
Namanya saja sudah bikin penasaran: guneman—ngobrol. Tapi jangan salah, obrolan ini bukan gosip warung kopi. Isinya serius, walau dibungkus santai. Lima guru tampil bergantian membedah buku dengan gaya masing-masing. Ada yang mendongeng manis, ada yang melawak cerdas sampai bikin ruangan pecah tawa, ada yang reflektif bak lagi curhat pengalaman mengajar, bahkan ada yang memberi wejangan mendalam seperti ustaz sedang membimbing jamaah.
Komunitas ini lahir dari keresahan yang tak lagi bisa ditutup-tutupi: minat baca rendah, daya kritis siswa melemah. Dan yang bikin sedikit “nyengir”, dalam sejumlah survei guru disebut bukan kelompok paling rajin membaca. Dari situlah muncul pertanyaan yang cukup menohok, “Bagaimana mungkin kita berharap siswa mencintai buku jika guru tidak lebih dulu akrab dengannya?”
Alih-alih tersinggung, para guru ini memilih bergerak.
Salah satu sesi yang paling ramai dibicarakan adalah ketika Kak Nita membawakan resensi buku Ensexclopedia. Tema pendidikan seks yang biasanya bikin orang batuk kecil atau melirik kanan-kiri, justru disampaikan dengan terbuka dan reflektif. Ringan, tapi berbobot.
“Seru banget menyimak resensi Kak Nita mengenai sex education dengan dibantu buku Ensexclopedia tadi. Setelah ini jadi pengen beli bukunya, bertukar pikiran sama ayahnya anak-anak, terus kita mulai petualangan belajar seksualitas bersama anak-anak,” ungkap Bunda Joe, yang hadir bersama anak remajanya.
Tak hanya guru dan orang tua, sejumlah pegiat literasi ikut meramaikan. Ada dari dan tim . Suasananya cair, tapi obrolannya dalam.
Yang membuat acara ini makin “berbobot” adalah kehadiran bersama Dodik Mariyanto. Septi menyampaikan apresiasinya dengan nada optimistis.
“Saya senang kakak-kakak terus belajar dan banyak membaca. Kalau kakak-kakaknya saja kemana-mana bawa buku bacaan, maka saya optimis generasi anak-anak yang dirawat oleh kakak yang gemar membaca adalah calon generasi emas yang mulia, memiliki rasa empati yang kuat sekaligus kritis dan solutif dalam memecahkan masalah,” ungkap Septi.
“Guru Guneman” rencananya akan menjadi agenda bulanan. Kalau konsisten, bukan tak mungkin ini jadi tren baru di kalangan pendidik, bukan lagi sekadar kumpul rapat administrasi, tapi kumpul baca dan diskusi isi kepala.
Di tengah riuh rendah dunia pendidikan yang sering sibuk urusan kurikulum dan target angka, pertemuan ini seperti bisik-bisik hangat yang pelan tapi mengena: perubahan bisa dimulai dari kebiasaan kecil membawa buku, membacanya, lalu membicarakannya.
Dan mungkin, dari “gosip buku” inilah, literasi pelan-pelan menemukan panggungnya kembali.












Tinggalkan Balasan